Beranda Artikel 3 Alasan Nusantara Mengaji Tidak Menarik Bagi Anak Kos

3 Alasan Nusantara Mengaji Tidak Menarik Bagi Anak Kos

2306
aku mau mengaji bersamamu, anak kos, Nusantara Mengaji,
aku mau mengaji bersamamu, anak kos, Nusantara Mengaji,

Sebelum muncul gerakan “Nusantara Mengaji”, teman kosan saya, sebut saja namanya Kibul, sudah memploklamirkan gerakan “Jogja Mengaji”. Sayangnya dia bukan politisi yang mampu menggerakkan orang se-Nusantara. Kibul hanya masih skala kota Jogja. Tapi, bagi saya, Kibul yang anak kosan itu, termasuk orang keren.

Andaikata Kibul adalah anak ideologis partai politik, pasti dia akan membuat acara yang sama, bahkan lebih besar lagi. Kalau perlu Kibul bekerjasama dengan penjual kopi atau warung makanan yang kedainya bertuliskan “bagi yang hafal al-Qur’an gratis,  ambil sendiri sepuasnya”.

Jadi, menurut saya, gerakan khataman serentak 300.000 itu bagi saya kurang menarik. Apa alasannya? Karena begini,

Pertama, mengaji adalah suatu hal yang menjadi rutinitas bagi saya dan teman kosan sehabis maghrib.

Walaupun saya anak kos, kita-kita ini ya tetap ngaji, belajar membaca al-Qur’an. Terkadang kami juga dimintai tolong oleh seseorang yang pengen sekali anaknya bisa baca kitab suci. Jadi, mengaji dan mengkhatamkan al-Qur’an sudah menjadi kebiasaan bagi kami. Astaghfirullah, riya.

Terkadang, ada juga tetangga yang mengundang kami untuk acara nyatus, nyewu, bagi keluarganya yang sudah wafat. Minta didoakan. Minta dihadiahi bacaan al-Qur’an. Kampung di sekitar kosan saya rata-rata adalah warga Muhammadiyah. Tetapi secara kultural mereka ini ya NU. Jadi, masalah perbedaan furu’iyyah (seperti qunut, tahlilan, yasinan, salaman seusai shalat), tidak menjadi soal. Bahkan, ada juga yang Non Muslim, ketika acara slametan, tahlilan dan yasinan, mereka ikut guyub bareng. Tidak jarang mereka meminjamkan tikar, gelas, dan lahan parkirnya untuk seremonial acara. (Baca: Anak Kos Wajib Baca 4 Golongan Manusia Ala Imam Ghazali)

Baca Cuk:  Kamu Masih Jomblo? Jangan Kuatir, Ada 52 Juta Teman di Belakangmu

Terus ada yang nyeletuk, doa dan kirimannya itu sampai ke almarhum tidak kalau nyatus, nyewu tersebut? Sampai atau tidaknya bukan urusan kita. Kalau kita niatkan ikhlas, insya Allah ya sampai. Toh faktanya, doa-doa yang dikirimkan tersebut gak balik lagi. Nah, itu berarti pertanda sampai. Begitu menurut hemat saya.

Kedua, gerakan Nusantara Mengaji dengan jumlah 300.000 khataman yang mengadakan adalah politisi.

Jadi, saya agak gimana gitu. Sebelumnya, tulisan saya “Lomba Baca Kitab Kuning Berhadiah Istri”, juga membincang hal yang serupa, kegiatan keagamaan yang dilakukan politisi.

Kenapa khataman al-Qur’an harus diserentakkan se-Indonesia? Mau mengkhatamkan al-Qur’an saja harus buka pendaftaran. Ya, gimana ya. Bagi saya yang santri ini kok kurang elok. Kalau mau mengkhatamkan al-Qur’an ya khatamin saja.

Bukankah itu sebuah pemborosan. Jadi begini, 300.000 ribu khataman al-Qur’an itu tidak mungkin yang ikut gerakan ini gak dapet bingkisan atau amplop. Taruhlah setiap khataman itu perorang dapat sepuluh ribu rupiah. Tapi gak mungkin banget ya, ngatamin al-qur’an cuma dapet goceng dua. Ya, taruhlah seratus ribu rupiah setiap khataman. Tinggal dikalikan saja. Bagi yang tahu jumlahnya silakan komen. Soalnya matematika saya jelek.

Berapa berapa? 30.000.000.000? wow. Bagaimana kalau uang segitu disumbangkan saja ke korban banjir yang ada di Bekasi, Jakarta. 1.500 rumah terendam akibat tanggul kali Bekasi jebol. Pasti lebih bermanfaaat!

Baca Cuk:  Keuntungan Hidup Nomaden Ala Anak Kos

Terus, uangnya darimana? Semoga saja tidak dari hasil syubhat apalagi haram, ya. Tahu sendirilah bagaimana politisi tanah air kita. Soalnya ini acara khataman al-Qur’an. Al-Qur’an itu kitab suci yang diyakini oleh umat Islam yang datangnya langsung dari Tuhan, serta dijaga keasliannya (Surat Al-Hijr: 9). Dan gak mungkin juga bila al-Quran yang suci itu dituker sama duniawi? Apalagi ingin menyuap Tuhan. Kayak mbak Damayanti Wisnu Prutanti saja yang habis kopdaran sama KPK.

***

Di dalam ajaran fikih dijelaskan. Bila ingin mensucikan barang yang terkena najis itu tidak bisa dengan air musta’mal (yang sudah pernah dipakai), apalagi memakai air yang mutanajjis (terkena najis). Yakni harus dibasuh dengan air yang thahir muthahir. Bersih saja tidak cukup, tetapi harus suci.

Ketiga, acara dengan tagline “untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bangsa” tersebut saya kira tidak mempunyai dampak global sama sekali.

Karena begini, terus, kalau sudah khatam mau apa? keliatan ‘wah dan wow’ gitu kali, ya. Banyak loh para teroris dan pelaku radikalisme di negeri kita ini yang juga sering ngatamin al-Qur’an.

Lalu, bagaimana mau selamat? Menyelamatkan bangsa ini tidak cukup dengan khataman, cak. Jika ingin menyelamatkan bangsa, kumandangkan itu Gerakan Anti Korupsi. Gerakan Anti Reklamasi. Gerakan Anti Semen. Gerakan Anti Diskriminasi. Gerakan Anti Terorisme, Gerakan Anti Suap dan Money Laundry. Dan gerakan-gerakan yang lain yang berdampak positif bagi negara kita. Nah, itu baru kongkrit: menyelamatkan bangsa! [Baca: 7 Strategi Hemat Ala Anak Kos Yang Wajib Kamu Perhitungkan]

Baca Cuk:  Kos-Kosan Adalah Kuburannya Para Hantu Komunis

Kalau cuma membuat gerakan khataman untuk tujuan politis ya mendingan buat gerakan Nusantara Menikah saja. Itu baru berkah. Karena dengan gerakan Nusantara Menikah nanti akan mengurangi jumlah populasi jomblo yang setiap malam minggunya cuma bisa ngobrol sama tembok.

Bayangkan, misalnya dengan jumlah 300.000 ribu khataman al-Qur’an dibanding dengan 300.000 menikah se-Nusantara, lebih kongkrit mana? pasti para politisi yang ada di dalam naungan partai Anda itu akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar. Karena membahagiakan banyak orang. Mengurangi dampak kegalauan di tingkat global media sosial. Mempercepat populasi para jundullah yang siap berperang melawan ISIS dan MEA.

Sehingga, partai Anda nanti bisa dikatakan sebagai partai islami, partai yang menjalankan sunnah Nabi Muhammad Saw. Subhanallah. Klik share. Amin.

Dan saya, adalah orang pertama, yang akan mendaftar gerakan Nusantara Menikah tersebut.

BERBAGI
Muhammad Autad An Nasher
Sering berkeliaran di akun twitter @autad