Beranda Artikel 6 Penyebab Penyalahgunaan Kos-kosan

6 Penyebab Penyalahgunaan Kos-kosan

1738
penyalahgunaan kos-kosan, kehidupan anak kos, mesum, sex,
penyalahgunaan kos-kosan, kehidupan anak kos, mesum, sex,

Salah satu yang diuntungkan dengan adanya urbanisasi adalah para juragan tanah, pemilik kos-kosan, pengembang apartemen dan pemilik perhotelan. Tak heran jika banyak juragan tanah di kota-kota besar mengalihfungsikan lahan mereka menjadi kos-kosan, apartemen maupun perhotelan. Tak terkecuali para pribumi yang ingin mendapatkan berkah urbanisasi, mereka berbondong-bondong mengalihfungsikan rumah mereka menjadi kos-kosan. Sementara mereka sendiri rela tinggal dirumah yang sempit dan kotor. Tujuannya satu, rumah mereka dijadikan kos-kosan agar tiap bulan tanpa kerja mereka dapat uang.

Biasanya kos-kosan tersebut disewakan untuk orang yang bersekolah, kuliah, kerja maupun orang yang sudah berkeluarga tapi tak cukup uang beli rumah sendiri. Tak ayal jika kos-kosan dari dulu sampai sekarang menjadi bisnis yang menjanjikan, karena terjadi dua hukum yang saling bertemu. Kebutuhan dan pemenuhan. Pendatang (kaum urban) butuh tempat tinggal, pribumi menyediakan tempat tinggal. Klop sudah untuk menjadi syarat ladang bisnis yang menjanjikan.

Namanya juga bisnis, jika kewajiban sudah dipenuhi (bayar sewa kos), maka hak para penghuni kos adalah menempati. Nah, dalam proses menempati ini sering terjadi penyalahgunaan kepercayaan yang diberikan pemilik kos maupun norma yang berlaku dilingkungan masyarkat sana.  Salah satunya adalah gaya hidup yang menganggap kos-kosan adalah tempat bebas, semau gue. Makanya tak heran, marak sekali kos-kosan dijadikan tempat  untuk perbuatan yang melanggar aturan dan norma yang berlaku dimasyarakat. Contohnya: cipokan, kelon, nyimeng dan minum-minuman.

Penyalahgunaan kos-kosan tersebut membuat masyarakat sekitar resah, sayangnya kebanyakan dari mereka tak bisa bertingkah, akhirnya mengalah.

Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan penyalahgunaan kos-kosan tersebut? Berikut 6 penyebabnya:

Niat penghuni kos itu sendiri

Sebenarnya niat penghuni kos itu sendiri adalah alasan utama adanya dorongan subjektif untuk melakukan penyalahgunaan kos-kosan. Sebab, seketat-ketatnya peraturan kos-kosan, jika penghuninya mempunyai niat melakukan hal negatif maka kesempatan itu akan tercipta.

Kurangnya pengawasan pemilik kos

Dengan ketidakpedulian pemilik kos akan menjadi celah bagi pengguna kos-kosan melakukan perbuatan yang melanggar aturan dan norma yang berlaku dimasayarakat, karena mereka beranggapan pemilik kos tidak akan tahu apa yang dilakukan di kos-kosan.

Peraturan kos yang tidak tegas

Kurang tegasnya peraturan kos membuat penghuni kos menyepelekan, bahkan cenderung mengacuhkan. Misalnya, peraturan tidak boleh bawa lawan jenis ke kamar. Namun sekali ada penghuni kos yang bawa pacar ke kamar tidak di tindak tegas menyebabkan pengulangan dan memancing penghuni kos lainnya melakukan hal yang sama. Akhirnya peraturan hanya sekedar peraturan tanpa mampu mengatur tingkah laku penghuni kos.

Tempat kos-kosan yang tersembunyi

Tempat kos-kosan yang berada jauh dari lalu lintas warga sering kali jadi incaran para calon penghuni kos. Alasan klasiknya pengen tempat yang tenang jauh dari keramaian. Namun banyak sekali yang memanfaatkan kos-kosan yang berada di lorong, tersembunyi dan jauh dari pengamatan warga sebagai tempat yang ‘strategi’untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab, dengan adanya kos-kosan tersembunyi mereka beranggapan masyarakat tidak akan mengetahuinya. Aman ndan. (Baca: Jenis-jenis kos-kosan)

Pemilik kos-kosan sengaja membebaskan tempat kos

Kos bebas macam gini biasanya terjadi agar kos cepat laku dengan harga sewa yang tinggi. Sehingga fasilitas yang diberikan pun juga tinggi, yaitu bebas-sebebasnya. Mau bawa cewek kekamar tak masalah, asalkan satu tidak menimbulkan keributan dilingkungan masyarakat sekitar. Bahkan di kota-kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta banyak ditemukan sewa kos untuk lawan jenis tanpa status halal, hal ini terjadi karena pemilik kos tergiur dengan bayaran yang tinggi.

Kurangnya sosialisasi dan pengawasan dari perangkat desa/kota setempat

Karena tidak mendapatkan perhatian dan arahan yang jelas dari perangkat desa setempat (Rt/Rw), membuat para penghuni kos merasa bebas dan tidak merasa takut atas apa yang telah dilakukan. Seolah-olah yang tercipta adalah “urusanku-urusanku, urusanmu-urusanmu, urusan mereka-urusan mereka”. Sehingga seringkali terjadi gap antara para pendatang (penghuni kos) dengan penghuni kos lainnya, maupun pendatang dengan masyarakat sekitarnya.

Jadi sebenarnya ketidakharmonisan sosial inilah yang kemudian membuat penyalahgunaan kos-kosan itu berlanjut. Seperti maraknya kasus hamil diluar nikah, pembuhunan di kamar kos, kemalingan maupun pencemaran nama baik tempat dimana kos-kosan itu berada sangat mungkin terjadi.

Solusinya, kita perlu kembali memupuk rasa kepedulian dengan cara saling mengawasi dan mengingatkan atar penghuni kos satu dan lainnya. Kalaupun jika kita tidak mampu mengingatkan maka laporkan saja ke pemilik kos maupun masyarakat sekitar. Dengan demikian, akan terjadi interaksi sosial antar pendatang dan atar masyarakat sekitar. Sehingga pada titik inilah akan melahirkan kepedulian sosial yang telah lama hilang.

BERBAGI
Taufiqo
Seorang Perantau yang bercita-cita ingin punya kos sendiri