Gadis sedikit tambun itu masih asik memainkan jemarinya pada bahu kecil teman wanitanya. Naik turun. Kadang ia berhenti sejenak, merapikan posisi duduknya. Ia jelajahi bagian tubuh atas itu, merabanya, dan menekan dengan khusuk. Jemari itu tak hanya lihai menari di atas tubuh seseorang, tapi juga ketika menggerayangi papan ketik, seolah nampak R’n B berderap. Kala menancapkan pasti riglet (melihat) kecilnya, ketukannya indah sekali. Ada lagi, petikan pada senar-senar gitar. Jika kalian dengar setiap nada yang dimainkannya. Hayati iramanya, sekiranya kau luluh oleh harmoni pilu, sendu, ragu, malu, campur semua.

Windu, begitulah teman memanggilnya. Seorang tunanetra bertubuh sedikit tambun. Ia berhijab. Ketika berjalan macam diburu dosen cupu saja. Ia tak dapat melihat sejak lahir. Demikian juga kedua orang tuanya.

Di kos berukuran 2×3 itu, tepat di sisi kampus. Hanya saja terpisah oleh jalan kampung. Di depannya berteras dan berkursi. Di sanalah ia kerap menyaksikan suasana malam dengan telinganya. “Boleh pula sekarang aku mahasiswi,” gumamnya menyana waktu begitu cepat bak kilat. “Apakah lantas setelah ini gelarku adalah istri. Tidak. Tidak begitu juga. Aku punya nyali untuk menawar. Untuk tak lekas memiliki bayi dan membuang ASI.”

Demikian ia keras. Bolehlah orang melihatnya sebagai buta. Namun, itu tidak membuatnya lantas menjadi dungu. Kemudian tidak berguru dan hanya termangu menunggu lelaki hadir tuk memangku. Ia tak selemah itu. Pernahlah seorang kawan bertanya padanya, “Apa yang bisa kau kerjakan setelah lulus, sedangkan kami yang awas (melihat) saja gelagapan pada gelar atau kerja?”

Ia tak lekas menjawab, dihela nafas kecil dan dilepaskan pelan. “Jelas aku tak bisa bermain visual. Bagaimanakah kamu dan wujudmu. Tapi itu bukan arti bahwa aku disetir nuansa. Ingatlah, Tuhan tidak tidur, bukan? Bahkan, seekor itik yang ditinggal sang induk mampu bertumbuh kembang. Mengapa aku tidak?” begitu jawabnya tegas.

***

Windu kembali menyaksikan malam melalui pesan suara-suara pada telinganya. Dan, lagi. Ia bergumam. “Bolehlah aku buta, ibu dan bapak pula. Tapi Tuhan meminjamkan aku akal yang bisa membuat butaku tiada. Berdosalah aku jika lalai pada itu……” kriiiiing, kriiing… hp-nya berbunyi. Sebut saja seperti itu bunyinya. Mohon jangan protes.

“Halo, mbak Windu besok bisa isi suara di cafe jam 11 siang, tidak?” tanya suara wanita di ujung gagang telepon.

“Insyaallah bisa,”

Belum ia letakkan ponselnya, sudah berbunyi lagi.

“Mbak, ini Bunga. Aku bisa minta tolong urut tanganku gak?” tanya wanita lain dan masih di ujung telepon.

“Setelah kuliah ya, Bung” Sahutnya.

Keesokan harinya, ia tepati janji tuk memijat temannya dan mengisi suara di cafe. Seusai ia menyanyi, ia duduk di salah satu meja pelanggan. Lantas disusul oleh seorang muda, dan berkenalan. Obrolan mencair dan hangat. Tapi ini tidak akan masuk pada wilayah asmara. Windu sedang tidak ingin masuk ke dalamnya.

“Mengapa bernyanyi, mbak?” tanya pemuda itu.

“Bukan karena suka, tapi inilah yang membuat saya merasa Tuhan telah mengadakan saya,” jawab Windu.

“Maaf, pasti mbak sedikit terhambat dengan kondisi ini. Sesudah ini akan kerja apa?”

“Setidaknya, banyak orang yang meminjamkan matanya. Anggap saja kerja adalah bonus dari ilmu yang saya dapat di kampus. Saya hanya tak ingin jadi mesin, katakanlah traktor. Bisakah sebuah traktor berjalan di jalanan beraspal? Bisa saja, tapi itu merusak susunan material jalan. Saya tidak mau seperti itu” jawabnya panjang dan tegas.

“Bolehlah ceritakan pada saya. Bagaimana mbak bisa yakin dan keras hingga sampai di sini” pinta pemuda itu.

Berkisahlah ia. Tapi tidak mendongeng.

Apa yang diingatnya, ia berikan pada pemuda itu. Tapi tidak pada urusan pribadi. Ia kisahkan bagaimana ia terpatri pada kelemahan. Demikian itu adalah lingkungan rumahnya yang membentuk. Bahkan kalimat tak sedaplah yang membentuk semacam batu nisan kala ia masih remaja. Bersyukurlah ia, Tuhan mengirimkan dan membuka jalan melalui seorang guru yang tawarkan ia beasiswa. Karena mengingat bahwa akal Windu mampu untuk sekolah lebih tinggi. Setidaknya itu adalah jalan baginya untuk bisa bertiwikrama[1]. Melepas jiwanya pada raga berbentuk nisan muda.

Ia beranikan ambik beasiswa itu. Menyasak rumah baru yang tak pernah ia kira. Ada apakah di kota, bagaimana suasananya?

Berbekal asa. Ia tekun untuk bisa mengerjakan apa saja. Termasuk memijat, mengurut, berlatih komputer. Seban, Ia tak ingin ketinggalan informasi. Karena ia sadar, keterbatasan pengelihatan haruslah mendukungnya untuk kuat terus bisa mengerti, memahami hidup tentang apapun dilur dirinya. Belajar, belajar, dan berusaha adalah kuncinya.

***

“Mengapa tetangga tega mendiskriminasi kamu ya” gumam si pemuda.

“Jangan salahkan mereka. Masyarakat desa memang awam dan tradisional. Itupun tidak sepenuhnya salah mereka. Harap maklum,” bela Windu pada tetangga.

Benar, bahwa Windu tak menyalahkan siapapun. Meskipun lingkungan desanya masih meragukan Windu. Apakah bisa seorang buta menjadi sarjana?

“Lantas, jika kemudia saya bertanya…”

“Tanya apa?” potong Windu.

“Apa yang sudah bisa mbak lakukan?

“Tidak banyak. Hanya saja saya siap kepada apa yang datang darimana saja dan kapan saja serta bagaimana saja bentuknya” jawabnya membingungkan si empunya pertanyaan.

“Walaupun itu berupa tuntutan?” sambung pemuda itu.

Sejenak gadis itu, menghela nafas panjang. Lantas ia diam berpangku tangan.

“Tuntutan itu bagi saya tiada. Hanya mereka yang sudi diperalat pada tuntutan. Saya mengajak diri untuk bebas. Berjalan kadang tersandung, namun saya harus tetap melangkah. Saya tak merasa dituntut. Jika saya merasa dituntut, maka saya telah larut dalam rakusnya dunia,” tegas ia menjawab.

“Sedang raga butuh aroma, mbak” kejar si pemuda.

“Justru itu. Hanya karena aroma menggoda, apakah kau rela menyilapkan mata pada ilalang yang lantas kau kira padi merona? Jangan. Karena Tuhan tidak menghadiahi, tapi menitipkan sebagai bekal pada manusia.”

“Ucapkanlah kalimat apapun itu, sebelum azan ashar memungkasi perbincangan ini” pinta si pemuda.

“Tak perduli kerasnya hidup di kota, di rantau asing. Yang ku tahu, bahwa aku harus tahu kepada yang aku belum tahu. Dan akan terus ingin tahu melebihi orang yang telah lebih dahulu tahu,” Windu berkata pelan dan dalam.

Usailah perbincangan itu. Winda pulang  menuju kos kecilnya. Ia susuri jalan hingga pada halte bis. Ia coba kunyah pelan sapuan bahkan hujan yang banyak orang kata sebagai malapetaka. Namun baginya, itu hanya canda dari Sang Pemberi Jiwa.

“Aku buta, tapi tidak seutuhnya,” kata Windu di antara kepungan hujan.

 

Catatan :

[1] Bertiwikrama= melakukan tiwikrama= mengerahkan segala kekuatan untuk berbuat.

BERBAGI
Momogi
Relawan Muda Pusat Layanan Disabilitas Kampus