Beranda Artikel Cinta Segi Tiga Antara Korupsi, Kebahagiaan Kolektif, dan Anak Kos

Cinta Segi Tiga Antara Korupsi, Kebahagiaan Kolektif, dan Anak Kos

1100
korupsi, kebahagiaan kolektif, anak kos
korupsi, kebahagiaan kolektif, anak kos

Beberapa waktu lalu, sebuah lembaga Independent World Happiness Report (WHP) mengeluarkan laporan tentang indeks kebahagiaan sebuah negara. Denmark menduduki posisi ke-1, menjadi negara yang penduduk nya paling bahagia, dari 157 negara yang didata. Sedangkan Yaman adalah negara yang penduduknya paling tidak bahagia. Indikator penilaiannya antara lain produk Domestik Bruto per kapita, tingkat harapan hidup, dukungan sosial, kebebasan menentukan pilihan hidup, kedermawanan, persepsi korupsi, serta perasaan positif dan negatif.

Di samping itu, sebuah lembaga Transparency International juga mengeluarkan Corruption Perception Index (CPI) terhadap 168 negara pada tahun 2015. Semakin kecil indeksnya, semakin negara tersebut bebas dari korupsi. Lagi-lagi, Denmark mendapat angka 1. Sedangkan Somalia adalah negara dengan indeks korupsi terburuk.

Ada yang unik dari perpaduan data kedua lembaga berbeda tersebut. Yaitu saling terpautnya indeks korupsi sebuah negara dengan tingkat kebahagiaannya.

Ada 16 negara yang sama-sama masuk dalam 20 besar negara paling bahagia dan paling bebas korupsi. Swiss misalnya, mendapat peringkat 2 WHP dan peringkat 7 CPI. Finlandia yang mendapat peringkat 5 WHP, ternyata negara paling bebas korupsi setelah Denmark. Islandia yang menduduki posisi 3 WHP, ada pada peringkat ke 14 CPI.

Sementara itu, ada 8 negara yang sama-sama masuk dalam 20 besar negara paling korup dan paling tidak bahagia penduduknya. Yaitu Yaman, Sudan Selatan, Burundi, Afganistan, Angola, Kamboja, Suriah, dan Guinea.

Indonesia?

Negara kita itu ternyata berada di papan tengah. Peringkat ke 79 untuk WHP, dan 88 untuk CPI. Meski bumi pertiwi menduduki peringkat ke 2 di dunia masing-masing untuk keanekaragaman hayati dan panjang garis pantai; salah satu penghasil tambang terbaik di dunia; partai politik berceceran bahkan hingga ke kampus-kampus; ternyata tidak mampu membuat penduduknya merasa bahagia secara kolektif. Kita bahkan kalah dari Singapura, Thailand, dan Malaysia, yang tingkat kebahagiaan penduduknya masing-masing berada di peringkat 22, 33, dan 47. (Sumber: Antony Lee, Harian Kompas, 10 Mei 2016).

Melihat kenyataan itu, tentu saja kita sepakat bahwa korupsi menjadi biang kerok dari ketidakbahagiaan penduduk secara kolektif. Kita mengamini bahwa karena indeks persepsi korupsi kita jeblok, maka kebahagiaan kita pun turut jongkok. Tapi bagaimana kita membuktikan hal tersebut?

Berkenaan dengan korupsi, ada fakta sosial menarik yang tentu juga kita sepakati. Bahwa korupsi menawarkan kemudahan secara individu. Tidak kah lebih gampang membuat Surat Izin Mengemudi dengan cara “menembak” ketimbang mengikuti prosedur tes yang alamak susahnya? Tidak kah lebih mudah membuat sertifikat tanah dengan cara menyogok oknum daripada harus mengurus tetekbengek syarat-syaratnya? Tidak kah lebih mudah masuk kerja dengan perantara “orang dalam” tanpa harus susah-susah ikut seleksi? Tidak kah masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lainnya yang kita peroleh karena adanya sebuah cara Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme?

Lalu tidak kah kemudahan itu kemudian membuat penduduknya bahagia?

Jawabannya: iya secara individu dan golongan. Tapi tidak secara kolektif.

Karena saya membuat SIM dengan cara “menembak”, maka saya harus sedia uang tidak kurang dari Rp 300.000. Sementara biaya aslinya membuat SIM, tidak lebih dari Rp 130.000. Tindakan saya membuat sebuah konsekuensi logis bagi orang-orang yang tidak membuat SIM dengan cara “menembak”, yaitu tidak akan pernah dapat SIM kecuali menaklukkan ujiannya. Seberapa sulit kah itu? Seberapa banyak jumlah orang yang terkena dampak dari tindakan saya? Silakan tanya dan amati orang-orang di sekeliling kamu yang punya kendaraan dan bisa membawa kendaraan itu, tapi tidak punya SIM. Boleh survei berapa jumlah  pengendara yang terjaring razia karena tidak punya SIM, padahal razia dilakukan tidak lebih dari satu jam.

Begitulah kira-kira bagaimana ceritanya kemudahan yang diperoleh dengan jalan korupsi dapat menciptakan ketidakbahagiaan kolektif.

Saya dan oknum tentu bahagia dalam kasus setifikat tanah, tapi ada lebih banyak orang yang tidak bahagia karena tindakan tersebut. Saya tentu bahagia karena dapat bekerja dengan perantara “orang dalam”, tapi ada lebih banyak pengangguran yang tidak bahagia karena kebahagiaan saya.

Dengan kata lain, korupsi selalu menciptakan ketidakbahagiaan kolektif karena ada lebih banyak orang yang tidak mampu untuk melakukan tindakan korupsi. Selain itu, korupsi selalu memakan tumbal.

Lantas bagaimana kita menghubungkan indeks persepsi korupsi dan kebahagiaan kolektif dengan kehidupan di kos-kos an? Tentu saja ada hubungannya, walaupun terkesan dipaksakan. Hihihi.

Kos-kos an adalah tempat dimana karakter individualis seorang anak manusia dapat tumbuh subur. Dalam sel-sel kamar kos, seseorang akan merasa bebas berbuat apa saja yang membahagiakan diri sendiri. Berbeda dengan sel makhluk hidup, penguninya membuat sel-sel kamar kos tidak memiliki fungsi yang sama sehingga tidak bisa menjadi jaringan, organ, dan sistem organ.

Jika tidak dikontrol, karakter individualis seorang anak kos dapat menjadi kanker yang siap membunuh kebahagiaan kolektif seluruh penghuni sel kamar kos lainnya. Seperti korupsi, kebahagiaan individu tidak serta merta menciptakan kebahagian kolektif.

Memang sih, tidak ada praktik korupsi yang memungkinkan terjadi dalam dunia kos-kos an. Kecuali jika kamu termasuk seorang makelar kos yang menjalin persekongkolan JAHAT! dengan ibu kos. Tapi ada banyak tindakan-tindakan curang yang terkadang anak kos lakukan. Yang mana tindakan curang itu bikin kita happy, tapi bikin rekoso teman kos lainnya. Contohnya memakai kamar mandi ber jam-jam, sementara kita tahu ada banyak anak kos yang sedang antri; menyetel musik kenceng-kenceng sementara sebelah kamar merasa terganggu karena tak bisa tidur atau tak bisa belajar dengan baik; atau tidak pernah mau menjalankan tugas menguras bak mandi padahal jadwal sudah dibuat sedemikian rupa. Begitu banyak kelakuan-kelakuan anak kos lainnya yang menggerogoti kebahagiaan kolektif.

Akhir kata, hadirin wal hadhiraat yang berbahagia, jadilah anak kos yang baik. Jangan menjadi anak kos bermental koruptor yang mengabaikan kebahagiaan kolektif demi kebahagiaan individu. Jalin lah komunikasi yang baik dengan sesama penghuni kos. Selalu lah rendah hati dan mawas diri jika ditegur oleh teman kos lainnya. Jangan mudah tersinggung dan Baper.

Jika hal demikian dilakukan oleh seluruh anak kos di tanah air, tidak menutup kemungkinan pola kehidupan di kos-kos an menjadi suri tauladan bagi masyarakat umum tentang bagaimana membangun sebuah kebahagiaan kolektif. Atau setidaknya, jika dikemudian hari ada lembaga independen yang menilai indeks kebahagiaan penduduk di sebuah negara dengan indikator kehidupan kos-kos an, maka Indonesia akan menduduki peringkat pertama.

Anak kos sedunia, bersatulah. Dan jangan JAHAT!.

BERBAGI
Yanuardi Husen
Mengkritik sampai mati wkwkwk