Beranda Artikel Jenis-jenis Buku yang Hanya Pewe Ketika dibaca di bilik Kamar Kos

Jenis-jenis Buku yang Hanya Pewe Ketika dibaca di bilik Kamar Kos

3185
anak kos baca buku, hari buku nasional, kehidupan anak kos
anak kos baca buku, hari buku nasional, kehidupan anak kos

Kos, buku, dan membaca adalah tiga serangkai kosakata yang ideal melekat pada anak kos. Meskipun kini mulai jarang anak kos yang peduli dengan buku dan membaca, tetap saja keduanya menjadi standar ideal bagi kata benda dan kata kerja. Jika ketiga kosakata itu  melekat pada kamu, dengan sendirinya kamu memiliki modal sosial yang lebih daripada anak kos bertipe kos-game-tidur, kos-bola-futsal, atau kos-baju-belanja.

Apalagi jika kamu tergabung dalam komunitas anak kos yang menjadikan diskusi dan demonstrasi sebagai lifestyle, tidak familiar dengan “kos-buku-membaca” sama artinya menjadikan diri sebagai “anak bawang”. Setiap diskusi, kamu yang paling rutin ditugaskan untuk beli gorengan. Kalau demonstrasi, jangan harap ditunjuk untuk jadi koordinator atau orator.

Dalam segitiga kos-buku-membaca, anak kos sering menitikberatkan pada buku dan membaca semata. Buku apa yang dibaca dan seberapa intens dirinya membaca adalah fokus utama. Anak kos cenderung melupakan faktor kos itu sendiri. Kos-kos an sebagai tempat untuk membaca sering diabaikan peran nya. Hal tersebut tak ayal membuat kos termarginalkan.

Padahal, jasa kos bagi keberadaan buku dan aktivitas membaca mu, masyaallah bukan main guede nya. Kamar kos tidak hanya menjadi tempat yang aman untuk kamu menyimpan deretan buku berkualitas, tapi juga menjadi tempat yang pas bagi kegiatan membaca.

Kenapa demikian?

Karena tidak semua jenis buku aman dan nyaman untuk kamu baca di segala tempat. Beberapa jenis buku hanya layak jika kamu membacanya di bilik kos.

Apa saja jenis buku yang akan memberikan kamu sensasi pewe (posisi uwenak) jika kamu membacanya dengan menyendiri di kamar kos?

Berikut ini adalah jenis-jenis buku tersebut versi anakkos.com. Yuk, capcus.!

1.Buku-buku kiri yang kekomunis-komunisan

Tidak diragukan lagi. Sweeping dan razia buku-buku kiri-komunis oleh para jendral, menjadikan buku jenis ini hanya pantas dibaca dalam kos yang pintunya tertutup, jendela terkunci, tirai dihampar, dan lampu dimatikan. Fobia terhadap komunisme telah membuat jendral dan sebagian masyarakat kita men-tabu-kan buku-buku kiri.

Kalau tidak percaya, coba saja baca buku “Das Kapital” atau “Palu Arit Di Ladang Tebu” saat kamu sedang di Trans Jogja. Kamu akan jadi pusat perhatian beberapa orang yang mengerti di sekitar mu.

Syukur jika hanya jadi perhatian dan dilirik-lirik sinis. Kalau ada yang telfon police, kamu akan digelandang bung. Dipaksa turun tidak lewat halte. Dan kamu tidak bisa protes, karena sebelum itu pak polisi akan bilang begini dengan lantang:

“Sesuai dengan Tap MPRS No:XXV/MPRS/1966 Anda diduga telah menyebarkan paham komunisme/Marxisme-Leninisme yang dilarang oleh negara. Tunjukan di mana kos-kos an Anda, karena akan kami geledah.”

Sok-sok baca buku kiri-komunis di tempat umum hanya akan membuat tamat riwayat buku mu. Kamu hanya akan kehilangan ratusan ribu rupiah yang dulu kamu pakai untuk membeli buku tersebut.

Lagian, buku kiri-komunis akan lebih bermakna jika dibaca menyendiri. Membacanya di keramaian dapat menghilangkan esensi sakralitas yang ada di buku tersebut. Sudahlah, mengalah dulu. Tidak ada salahnya jika kamu memilih membacanya di bilik kos. Bangsa kita (baca:elit politik dan para jendral) belum mendapat nur tentang barokahnya buku-buku kiri berbau komunis. [Baca: Kos-kosan Adalah Kuburannya Hantu Komunis ]

2. Buku tentang agama/kepercayaan yang tidak kamu anut.

Tidak jauh beda dengan buku kiri-komunis, membaca buku keagamaan yang berbeda dengan agama mu, akan membuat orang berpikiran kamu hendak murtad. Walaupun tidak berniat demikian, kamu akan tetap dicurigai. Paling tidak akan ditanya ini itu tentang alasan dan keperluan membacanya.

Oleh sebab itu, jangan sekali-sekali membaca buku sejenis ini di hadapan orang rumah. Apalagi orang tua. Kamu hanya akan membuat mereka khawatir dengan keimanan mu. Saya pernah mengalaminya sendiri, saat membaca buku tebal berwarna merah di rumah. Tiba-tiba Om datang dan bertanya, “ngapain kau baca injil?” Hal tersebut membuat saya kaget. Untung waktu itu bukan injil beneran, jadi saya bisa menunjukannya langsung.

Tapi kenapa kita harus membaca buku keagamaan yang berbeda dengan yang kita anut? Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab orang per orang.

Saya sendiri ketika membacanya, tidak betul-betul tertarik, hanya saja ingin sedikit tahu dan mengintip. Lagi-lagi, tidak ada tempat yang paling layak selain kamar kos mu yang sempit itu.

3. Buku motivasi dan buku “how to”

Kamu mahasiswa baru? Yang butuh motivasi untuk lulus cepat dengan IPK cumload? Atau kamu seorang pebisnis pemula yang butuh trik cepat panen duit? Emmm, atau mungkin seorang yang sedang kasmaran dan perlu cara jitu untuk mendapatkan pujaan hati? Tidak diragukan lagi, jenis buku motivasi dan buku “how to” pasti menarik minat mu. Dan terkadang, tanpa rasa malu kamu mengumbar bacaan mu itu di hadapan publik. Dengan Pede beberapa orang sering saya temui petantang-petenteng dengan buku demikian.

Nih, saya kasih tahu ya. Jika kamu termasuk orang yang demikian, Subhanallah, memalukan sekali. Elo pikir bakal dianggap keren dengan menunjukan diri tengah baca buku berjenis ini kepada orang lain? Salah besar bro. Apa yang kamu lakukan  ke saya itu, Njijik i.

Sebagian orang yang benar-benar anti, akan melihat kamu sebagai manusia yang belum layak terlahir ke dunia ini. Dan jika hati manusia bisa berbicara seperti di sinetron, kamu akan mendengar mereka bergumam, “masuk sono ke perut emak loe lagi”. Sebagian yang agak toleran akan menilai kamu sebagai manusia yang pragmatis dan labil. Gimana? Mau dicap demikian?

Tapi saya gak bilang bahwa buku berjenis ini tidak layak baca loh. Buku motivasi dan buku “how to” juga ada manfaatnya. Bahkan lebih ceto ketimbang buku-buku kiri yang bikin frustasi itu. Saya yakin setiap pecinta buku pernah terjebak pada kondisi dimana ia sedang sangat bernafsu terhadap buku sejenis ini. Bagi saya pribadi, kondisi dimana seseorang jatuh cinta pada buku demikian adalah siklus dalam pendewasaan memilih buku berkualitas. Pada saat nya nanti, ketika kamu sudah dewasa dan bisa memilah buku yang layak baca, kamu akan insaf bahwa membaca buku motivasi dan “how to” bukan sebuah kesalahan, tapi takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Tapi mbok jangan diumbar ke publik. Cukup jadi rahasia pribadi. Biarkan pengalaman itu mengendap di gudang alam bawah sadar mu. Oleh sebab itu, menyendiri di kos-kos an adalah langkah paling syip jika kerinduan terhadap buku sejenis itu tiba-tiba mencuat tanpa kuasa kamu kendalikan.

4. Buku tentang seksualitas

Hayo ngaku. Pernah baca to? Paling gak lihat-lihat di majalah populer. Sejak dulu buku yang membahas seksualitas memang telah banyak di pasaran. Ya karena yang tertarik dan merasa perlu baca itu banyak.

Tertarik dengan informasi seputar seksualitas itu wajar kok. Manusiawi. Apalagi mahasiswa tingkat akhir yang ketika lulus berencana mau langsung menikah. Wih, malu-malu meong ia akan berusaha mendapatkan buku yang mengupas tuntas seputar seksualitas.

Buku sejenis ini memang perlu untuk dibaca. Supaya kita tidak gagap saat berkeluarga. Selain agar kamu tahu seputar kesehatan reproduksi, anatomi, serta morfologi alat vital, kamu juga akan mengetahui info-info seputar “kenikmatan”. Dan saya haqqul yaqin, 80 persen alasan kamu tertarik dengan buku seksualitas adalah apa yang saya sebutkan terlahir tadi. Hahahaha.

Yang laki-laki, akan paham bagaimanan menghidari ejakulasi dini. Dia juga akan paham bahwa perempuan itu punya bagian yang disebut G-Spot. Yang perempuan, kalau baca buku seksualitas, bisa memahami arti dari tindakan suaminya. Tentu  saja tidak melulu yang saru-saru. Beberapa buku ada yang membahas tentang etika saat gitu-gitu an. Sesuai tuntunan agama gituh. Apik to? Wis jangan gengsi.

Saya? Saya aja ada tiga buku. Dan memang sering saya baca berulang-ulang. Di laptop ada satu lagi, e book “kama sutra”. Tapi karena bahasa Inggris, dan saya malas bacanya, saya cuma memahami dengan melihat gambar-gambar yang ada. Lumayan lah, paham-paham dikit.

Lah yang jadi masalah, kalau tidak di kos an, kamu mau baca buku itu dimana e? Di rumah? Dilihat orang tua dan saudara-saudara mu gitu? Atau di kampus? Di kantin? Di warung kopi? Di mana? Udah, jangan ngeyel, di kos adalah tempat yang selayak-layaknya untuk baca buku seksualitas.

Untuk yang laki, pesan saya satu. Jangan baca buku seksualitas sambil baring telentang di kasur empuk mu itu. Bacanya sambil duduk saja. Gak kalah seru kok. Dan, usahakan pegang buku itu dengan kedua tangan mu. Jangan satu tangan pegang buku, tangan lainnya kamu biarkan bebas bergerilya. Dalam konteks membaca buku seksuaitas, hukum “tangan kanan memberi, tanah kiri tak tahu” makruh dilaksanakan. Yang sunnah itu kedua tangan mu dilibatkan. Yo jangan tanya kenapa no. Piye cara ku menerangkan alasannya? [Baca: 9 Buku yang Wajib di Baca Anak Kos]

Bagaimana? Itulah beberpa jenis buku yang sebaiknya kamu baca di kos-kos an. Tentu masih ada jenis buku lainnya yang bisa kamu cari tahu di tempat lain. Akhir kata, dalam rangka merayakan hari Buku Nasional, keluarga besar anakkos.com dengan tegas mengutuk segala tindakan yang mengarah pada sweeping, pelarangan, pembredelan, atau pemusnahan semua jenis buku. Memang ada buku bagus, berkualitas, dan layak baca. Tapi tidak ada buku yang “halal darahnya”. Semua jenis buku layak untuk hidup dan mencari pembacanya sendiri. Setiap orang punya hak untuk menulis buku apapun. Yang perlu dilakukan adalah mendidik anak bangsa untuk pandai memilih buku yang pantas untuk dibaca.

Selamat hari buku nasional ya kakak.

BERBAGI
Yanuardi Husen
Mengkritik sampai mati wkwkwk