Likaliku, anakkos, negeriSudan, sudan, mahasiswa,
organisasi

Tulisan satu ini datang dari anak kos yang sedang menempuh jenjang pendidikan di Negara Sudan. Bagaimana kisah lika-likunya di negeri mutiara hitam tersebut?

Sudan, adalah salah satu negara di benua Afrika. Sebelah utara berbatasan dengan mesir, laut merah di timur laut, Kongo dan Afrika tengah di barat daya, Chat disebelah barat, Libya di barat laut dan di sebelah Selatan berbatasan Sudah Selatan. Sudan yang saya maksud disini adalah sudan utara bukan Sudan selatan. Sejak referendum Januari 2011 Sudan terbagi menjadi dua bagian Sudan Utara dan Sudan Selatan.  Sudan dibelah dua arus besar Nil, Nil Putih dan Nil Biru bahkan ada mitos Multaqol Bahrain dalam Al Quran adalah pertemuan dari  dua sungai Nil ini, “Bahr” sendiri diartikan sebagai sungai yang besar.

Nah, Sudan merupakan negara jajahan Fir’aun yang telah leyap di makan zaman. Dahulu Sudan masuk dalam wilayah mesir dengan bukti banyak piramid-piramid kecil. Terutama didaerah Sandi, Sudan juga Negara yang di juluki Negara mutiara hitam, Anehnya walaupun hitam tetaplah sebuah mutiara dan tentu mahal harganya. Sebab, tidak mungkin sebuah julukan diberikan dengan cuma-cuma melainkan ada banyak latar belakang dibalik sebuah julukan itu. Iya ndak?

SUDAN NEGARA YANG COCOK BUAT BELAJAR BAHASA DAN AGAMA  

Sudan menjadi Negara yang mulai hangat di bicarakan untuk tujuan belajar keluar negeri, terutama soal bahasa dan agama. Sudan Utara sendiri ada banyak kampus favorit yang ditempati mahasiawa Muslim Indonesia, diantaranya Jamiah Afrikia Al-Al Alamiah, Jamiah  Al Quran Al-Karim, Jamiah Omdurman, Jamiah  As-Sinar dll.  Salah satu  kampus yang paling tren di Sudan adalah Jamiah Afrikia Al Alamiyah atau nama lainnya IUA (Islamic University of Africa). Kampus inilah yang membuka lebar tangan mereka menyambut hangat mahasiswa Indonesia yang tiap tahunnya mencapai ratusan mahasiswa datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Kampus IUA sendiri menyediakan beasiswa bagi pelajar yang pintar maupun yang pas-pasan otaknya. Mereka memberikan asrama, makan gratis, biayanya kuliah bahkan perpanjangan visa. Dalam satu kamar sendiri, kita biasanya menyebut kamar intenasional, kamar-kamar ini di isi dari berbagai Negara misal Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Kamboja, Yaman, India, Banglades, Nigeria, Bukio Faso, Gambia dan banyak lagi terutama dari negara-negara Afrika.

BELAJAR MENGHARGAI PERBEDAAN SANGAT DITEKANKAN DISINI

Komunikasi sehari-hari mereka memakai bahasa arab, mulai bangun tidur sampai tidur lagi, di dalam maupun di luar asrama. Selain memakai bahasa arab, kita juga dituntut saling memahami watak lintas negara, adat istiadat, keilmuan dan peradaban antar negara. Proses adaptasi seperti ini bagi saya merupakan hal yang menantang dan mengasikkan. Sebab, dari  perbedaan itu timbul keselarasan serta kontradiktif perbedaaan kita menemukan sebuah hal baru. Maka bagi saya, disinilah tempat yang paling pas bagi anak kos di luar negeri untuk bagaimana memahami sebuah perbedaan dan bagaimana menghargai sebuah perbedaan.

Jika menghargai sebuah persamaan adalah perkara yang wajar akan tetapi menghargai sebuah perbedaan adalah hal yang luar biasa. Iya bukan? La wong dalam satu satu negara saja kadang memiliki banyak perbebadaan apalagi antar negara bahkan antar benua. Proses adaptasi ini bagi anak kos yang berada diluar negeri adalah keniscayaan, maka yang perlu kamu lakukan adalah pahami karakter setiap person. Tetap ramah sama mereka. Dengan begitu kamu akan mendapatkan ruang dikalangan mahasiswa luar negeri.

LIDAH ORANG INDONESIA TIDAK COCOK SAMA MAKANAN DI SUDAN

Makanan di negeri Sudan, termasuk hal yang agak sulit bagi para mahasiswa Indonesia, mengapa? kerena tiap hari mereka harus mengantri dengan puluhan orang dan berdesak-desakan. Untuk sekedar makan mereka harus berjibaku dengan yang lainnya untuk menikmati makanan khas Sudan seperti Ful Ful, Adas dan lain-lain. Parahnya, makanan-makanan seperti ini tidak cocok dengan selera mereka. Yang biasanya sarapan Bubur ayam, Pecel, Soto dan Gado-gado.

Meski begitu ada kabar baiknya wahai anak kos, Sebab, dihari-hari tertentu Kampus menyediakan nasi, hal ini cukup mengingatkan kami pada makanan pokok di rumah. Nasi disini menjadi makanan yang langka dan istimewa loh. Sementara untuk hari-hari biasa, di Asrama makan makanan asli Sudan seperti Adas, Ful-Ful serta teh susu yang cukup lezat.

Bagi mahasiswa yang kreatif, lebih memilih memasak makanan sendiri yang pas dengan lidah mereka, makanan khas Indonesia. Bagi mahasiswa yang ingin sebuah kebebasan dan ingin punya privasi yang tinggi memilih nyewa ruang sendiri. Sebab, banyak juga loh mahasiswa yang tak betah dengan kehidupan asrama yang serba antri dan beribet. Kelompok semacam ini meyakini bahwa  kebebasan dan rasa kenyamanan adalah barang yang tak tenilai. Meski mahal tetap di terjang.

PEKERJAAN SAMPINGAN ANAK KOS DI SUDAN

Untuk menambah pundi-pundi Pound, mahasiwa Indonesia di Sudan bisa kerja sampingan seperti menjual makanan Indonesia, agen tiket, guide tentara, pelayan lestoran, tukang pijat profesional dan banyak juga yang menjadi pengurus takmir masjid sebagi amal ibadah mereka dan tentunya menjadi pengurus masjid dapat bisaroh.

Itulah sekelumit cerita tentang kehidupan mahasiswa yang ngekos di negara sudan, Negara yang terkenal dengan panasnya dan dinginnya. Tetapi disamping kelebihan pasti banyak kekurangan yang bisa kamu tambahi dikolom komentar dibawah ini. Pesan saya jangan pernah memandang sesuatu kecuali memandang kelebihannya, sebagaimana kita berusaha memandang nikmat-nikmat Tuhan dan mengesampingkan cobaan-cobaannya. Negara Sudan bagi saya adalah negara yang pas bagi anak kos untuk belajar qonaah dan rasa syukur. Jangan lupa bahagia!

BERBAGI
Eri Prasetiyanto
Pemuda asal Pati yang kebetulan diberi kesempatan mengenyam pendidikan di Sudan