Namanya Maurit, sebagaimana orang-orang memanggilnya demikian, entah siapa nama panjangnya. Tak ada beda ia dan teman-teman kuliahku yang lain. Hanya saja, ia sepertinya kurang perhatian. Aku tidak pernah tahu seluk beluk keluarganya, dia seperti menutup diri begitu saja. Aku rasa teman-teman gengnya juga tak pernah tahu silsilah keluarganya, maklum, orang-orang seperti mereka kan yang penting easy going aja dan berduit.

Perkara urusan pribadi itu sih bukan urusan. Mungkin seperti itu, seperti yang diceritakan di FTV. Aku juga tak begitu mengenalnya sih, dia cuma sekadar teman jurusan, dan kebetulan satu kos juga jadi sedikitnya aku tahu bagaimana sikapnya dalam keseharian.

Dia pencinta fashion, beda banget sama aku. Aku mah apa atuh, cuma sekedar anak yang kebetulan aktif di UKM dan bukan mahasiswa yang bisa sembarangan jajan semau perut. Kadang-kadang, aku penasaran dengan kehidupannya yang kelewat glamour itu, berganti-ganti pacar, yang aduhai kalau jemput bikin para jomblo kaya aku semakin ngenes. Kelasnya udah bermobilah pokoknya. Ya, kalau diibaratkan kaya langit dan bumi deh. Tapi kita hidup satu atap, satu kos maksudnya. Dan kesibukan serta gaya hidup yang berbeda membuat kehidupan kita pun berjarak. Namun kemudian, sesuatu terjadi dan kita pada akhirnya memilih untuk saling berteman.

Ini berawal dari ketidaksengajaan. Di musim libur anak kuliah, aku tak bisa pulang tentu saja karena ada banyak kerjaan organisasi yang perlu aku handle, tetapi teman-teman sebagian telah mudik, sebagian lagi nyari kerja sampingan untuk tambah uang jajan, sebagian lagi entah pada kemana. Yang aku ingat pada hari itu, di kos-kosan hanya ada aku seorang dan si Nona Maurit itu.

Ah Nona, ya waktu itu aku memang masih menganggapnya seperti Noni Belanda yang selalu berpenampilan wah, kalau tidak ingin mengatakan ribet. Ketika aku hendak ngambil jemuran di lantai atas, dan tentu saja melewati kamar kosnya di samping balkon, aku mendengar isak tangis yang berasal dari kamarnya. Dia seperti kesakitan, tangisnya seperti endapan luka yang telah bertahun-tahun ia simpan sendirian. Bukan tangis biasa, kira-kira seperti itu anggapanku waktu itu. Lalu aku urungkan niat untuk ambil jemuran dan mengetuk pintunya.

“tok-tok-tok” tak ada jawaban

“Tok-tok-tok”, hingga lima kali, dan pintu kamar terbuka. Ia langsung menghambur ke tubuhku yang kurus dan menyeretku masuk. Sambil masih terisak ia tutup pintu, ia kunci dan lalu duduk di kasurnya. Lama sekali hingga ada lima belas menit sebelum akhirnya kita saling berbicara. Jeda itu, rasanya begitu lama. Dan aku bak patung yang tak bergerak selain menunggu kata-kata keluar dari bibirnya yang masih bergincu.

“Ada siapa di kos? Maksudku, selain kamu yang mendengar tangisanku?” ucapnya memulai percakapan. Aku masih mematung, berharap dia meneruskan kata-katanya. Aku melirik seisi kamarnya, betapa berantakan. Mungkin memang hidupnya sedang kacau. Pikirku waktu itu. Ia tak juga meneruskan percakapan, “Hanya aku, kamu mau bercerita apa yang telah terjadi dan membuatmu sehisteris ini?” dia terdiam.

“Baiklah jika kamu ingin sendiri, aku akan pergi. Tapi tolong biarkan aku tahu jika kamu membutuhkan bantuan. Teman-teman kos sebagian sedang pulang.” Aku beranjak pergi, tak mau mengganggu, tapi ia rupanya tak mau ditinggal pergi. “Jangan, aku takut.” Ku urungkan niat pergi, akhirnya aku merebah di sampingnya, menunggu ia memulai cerita. Tetapi di tengah waktu menungguku itu, aku terlebih dahulu dikejutkan oleh banyaknya obat terselip di rak bukunya.

Rupanya ia tahu kemana arah mataku dan serta merta menjelaskan tanpa aku dahului dengan sebuah pertanyaan. “Aku sakit.” Ucapnya lirih sambil menahan isak. “Hidupku kacau sekarang, orang-orang meninggalkan aku dalam kondisiku yang seperti ini.” Aku mendengarkan seksama, mencoba untuk berempati. “Mereka semua memang brengsek, bedebah sialan!” ya, dia mulai memaki-maki sembari memberantakan kamar tidurnya yang memang sudah berantakan. “Apa tak ada lagi yang peduli sama aku?” ia bertanya kepadaku, begitu miris. “Apa selama ini kau peduli dengan lingkunganmu?” aku menjawab dengan pertanyaan. Lalu hening, dan ia kembali terisak.

“Tidak, aku tidak pernah peduli dengan siapapun.”

“Lalu kenapa kamu berharap ada yang peduli denganmu?”

“Tapi aku peduli dengan teman-temanku u know?”

I know, but you just care with your friend, not people around you!” sanggahku mencoba mengimbangi. “kamu sakit apa?” tanyaku mencoba untuk mencairkan suasana.

“Lalu apa pedulimu jika aku menjawab pertanyaanmu?”

“Baiklah, kamu sendiri yang membuat orang lain tak peduli dengan keadaanmu. Terserah kamu, aku tak memaksamu untuk bercerita.” Aku pikir, orang-orang seperti dia memang perlu sedikit dikerasin biar tak melulu songong.

“Aku hanya tidak tahu harus bagaimana bersikap. “ Lalu kemudian, cerita begitu mengalir, seperti air sungai yang tak terbendung. Dan dia, dia memang sakit. Sakit luar dalam. Seperti gadis piatu yang hanya memiliki kesunyian. Keglamouran hanyalah salah satu cara untuk menutupi dirinya yang rapuh. Malangnya, lingkungan bergaulnya tak pernah menerima nasib malang. Dan aku seperti terjebak rasa belas kasihan. Tak ada cara lain selain menolongnya. Yah, berawal dari itu, kita mulai berteman.

***

Dia anak broken home. Masa kecilnya ia habiskan di tempat penitipan anak. Orang tuanya entah pergi ke mana, tak ada kejelasan. Dia hanya hidup dengan eyang, yang tak memberinya kejelasan kemana orang tuanya. Ia hanya tahu bahwa kedua orang tuanya, kendati sudah bercerai, mereka masih mengirimi pundi-pundi uang bulanan si Maurits. Entah kenapa orang tuanya tak pernah menampakan muka. Sekalipun tak pernah selama ia mampu mengingat muka. Pacarnya, teman-teman gengnya, semuanya meninggalkannya ketika mereka tahu bahwa Maurit sedang menyidap penyakit. Dia merasa, selama ini dia hanya dimanfaatkan teman-temannya. Maurit yang kaya dan hidup glamour, kini mencoba sedikit demi sedikit mengurangi keglamourannya itu. Meski tetap saja masih nampak glamour. Dia sibuk berobat dan menjauhi dunia luar. Kesehariannya hanya di kost, dan entah sejak kapan dia ashik membaca buku. Dia seperti, sangat menikmati dunianya yang sunyi.

“Narcissus and Goldmund, karya Hermann Hesse. Kau sudah membacanya? Ia bertanya suatu hari di bawah pohon beringin kampus.

“Ada apa dengan buku itu?”

“Tidak ada, aku hanya bertanya, barangkali kamu suka sastra”

“Sejak kapan kamu menyukai sastra?”

“Sejak aku dilahirkan dari rahim kesunyian”

“Wouw, puitis sekali. Aku baru tahu.” Kali itu, aku adalah satu-satunya teman yang peduli bagi Maurit. Ini bukan perkara menjadi hero dan baik hati, aku hanya, seperti melihat diriku yang lain.

***

Ada banyak cara untuk mengenang diri bukan? Seperti ketika kita mengunjungi suatu tempat yang di dalamnya terdapat ukiran kenangan. Ketika kita kembali ke tempat itu, kita seperti merasa kembali ke diri. Tapi kadang-kadang, ada sisi hati yang berlawanan dan tak ingin mengenang. Hanya saja, kita justru terus semakin memikirkannya, mengulanginya, dan terus seperti itu. Kita memang tak pernah bisa melupakan kenangan, sebuah sense yang pernah hidup betapapun kita ingin menguburnya. Kita akan selalu, menziarahinya. Seperti kita berbuat dosa lalu menebusnya dengan doa, Tuhan mungkin akan memaafkan kita, tapi bisakah kita membuat orang-orang di sekitar kita begitu saja lupa? Ternyata tidak bisa. Seperti itulah, ketika aku dan Maurit berjumpa. Aku seperti kembali ke dalam diri, seolah ada aku di sana. Padahal kita tidaklah sama.

***

Di rumahku ada dua keranda. Isinya, ayah dan ibuku. Mereka mati begitu saja tanpa pamit dan memberi wasiat. Dan aku seorang diri, meratapi kepergian mereka yang tiba-tiba. Ada puluhan mungkin juga ratusan. Mereka mencoba merasakan sakitnya berkabung, tapi itu tak cukup. Mereka tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi piatu dalam waktu sekejap. Dunia seperti dijungkirbalikkan begitu saja. Rumahku disesaki para pelayat, halaman rumahku hingga ujung gang dipenuhi mobil-mobil dan kendaraan teman orang tuaku. Mereka semua berbaju hitam seperti ninja di film-film Jepang yang aku tonton. Tentu saja aku meronta, dan tak kuasa menahan diri saat orang-orang ingin menguburkan mereka. Pada akhirnya aku tak sadarkan diri. Sesadarnya aku, rumah telah sepi dari pelayat. Hanya ada kolega dekat yang sedang mengobrol ashik, entah apa isinya. Lalu setelah itu, setelah itu aku membisu. Berapa hari? Puluhan hari.

Aku tak akan pernah lupa bagaimana orang-orang menyalamiku, bagaimana mereka menatapku nanar. Ah, sakit sekali. Tatapan mereka adalah tatapan penuh belas kasihan, tapi mereka tak peduli hidupku setelah itu, hanya kasihan yang tak berarti. Ah sial. Aku tak ingin mengingatnya. Ini membuat mataku menjadi sembab. Tapi aku membenci mereka, aku membenci semua mata yang menatapku begitu nanar.

“Ping. Ping. Ping.” BBM ku bergetar. Males membuka. Lagi, “Ping. Ping. Ping, Kok ngobrol sendiri di depan kaca? Aku ada di belakang pintu, tolong buka!” dari Maurit. Ah, Shit!!

BERBAGI
Dhedhe Lotus
Perempuan Perantau yang tak kunjung selesai. Suka dunia imajiner