Hubungan baik dua negara yang pernah berseteru bisa dibina kembali dari kos. Kesimpulan ini saya dapat berdasar pengalaman ngekos dengan seorang kawan dari Timor Leste.

Satu hari, ketika sedang santai sambil baca buku, pintu kamar kos terdengar diketuk dua kali. Saya bergegas ke luar setelah menandai halaman. Begitu buka pintu, seorang dengan rambut gimbal ala Bob Marley mengulurkan tangan. Namanya Jaray, “Saya mau tempati kamar sebelah,” katanya. Setelah beberapa kata basi ia pamit membereskan kamar.

Saya balik kos tengah malam waktu itu. Habis ngopi dengan beberapa kawan. Jaray sedang asyik main gitar di teras. Saya ngobrol lumayan panjang dengannya. Seingat saya itu awal 2014, pas ramai-ramainya kampanye Pemilu. Setelah membuka obrolan, ia bilang turut mengikuti perkembangan politik Indonesia. Asyik nih, orang luar doyan makan wacana pemilu yang mungkin bagi orang Indonesia sendiri justru bikin mual.

Jaray punya perhatian khusus di sini. Terlebih yang berkait sepak terjang sebuah partai berlambang Garuda dengan bosnya Prabowo Subianto. Bukan cuma Jaray, saya kira semua warga Timor Leste punya kenangan pahit atas mantan menantu Soeharto ini. Prabowo dalam ingatan Timor Leste adalah sutradara pembantain di Kampung Janda (Krakas) sewaktu gencatan senjata tahun ‘83. Belakangan cerita minor seputar laku Prabowo semakin terungkap, terutama setelah ia dipecat dari dinas ketentaraan tahun ‘98.

Prabowo menjadi nama bertanda merah bagi orang Timor. Kisahnya mengalir dari generasi ke generasi. Jaray yang lahir belakangan menjelang referrendum pun hafal nama sekaligus kekejamannya di masa pendudukan. Mungkin bagi kami orang Indonesia, ia serupa dengan Coen atau Daendels yang menjadi simbol kekejaman penjajah Belanda.

Setahun berikutnya, Timor Leste melakukan Referrendum. Saat itu Jaray masih ingusan, ia belum banyak tahu soal politik. Ia cuma ingat, telah banyak sanak tetangganya mati demi referrendum. Pelakunya adalah tentara Indonesia (waktu itu masih ABRI). “Saya tak mau mengingat itu lagi kawan. Biarlah, semua sudah selesai.” Begitu ia bilang, “yang penting sekarang kita sudah merdeka.”

Saya melihat lebih banyak gelap di mata Jaray. Nampak benar ia memilih tiap kata yang diucapkan. Mungkin ia khawatir saya tersinggung ketika ia bercerita tentang kebiadaban ABRI. Padahal saya ya biasa saja. Wong kenyataannya tentara kita memang biadab kok, tidak saja ke pada mereka. Juga ke pada rakyat Aceh, Papua, dan sipil biasa di Indonesia.

Kami duduk santai di kursi teras. Dengan segelas kopi sachet buatan Jaray dan sebungkus rokok Marlboro. Pintu kamarnya terbuka lebar. Di dalam ada sebidang kasur, dispenser, dan buku yang berserakan. Di dinding ada poster besar Real Madrid. Di sebelahnya melekat sebuah bendera bergaris merah hitam. “Itu bendera Fretilin,” jelasnya, “Kebanggaan gerakan kemerdekaan Timor Leste.”

Latar belakang trauma Jaray bisa kita tarik ke tahun 1975, ketika Timor Leste mendeklarasikan kemerdekaan setelah 400 (empat ratus!) tahun dijajah Portugis. Hanya sembilan hari setelahnya, belum tuntas euforia kemerdekaan itu, tentara Indonesia menginvansi ke sana. Hari itu, 7 Desember, bendera Fretilin yang menjadi simbol kemerdekaan Timor leste dilucuti. Cerita selanjutnya bisa ditebak, penindasan dan pembunuhan rakyat yang tak merelakan kebebasannya direnggut berjatuhan. Hingga seperempat abad kemudian referrendum dilakukan.

Sudah hampir sebulan ini Jaray rusuh soal visa belajarnya yang habis. “Seharusnya, aku perpanjang akhir tahun lalu,” katanya. Tapi ongkosnya mahal. Lima juta rupiah untuk perpanjangan. Selain itu birokrasinya sulit dan cuma bisa dilakukan di Jakarta, kantor duta besar Timor Leste.

Jaray merasa pemerintah Indonesia kurang memberi kemudahan untuknya. Ongkos yang sejumlah itu baginya terlalu berat. Kondisi ekonomi di negaranya belum bagus, ia mesti mengirit biaya hidup. Tak banyak kemudahan yang dibuat pemerintah Indonesia untuk negara yang pernah didudukinya ini. Beberapa teman Jaray masih terkendala bahasa dan urusan birokrasi kampus. “Kawan-kawan banyak yang ditangkap dan dipulangkan sebab visa yang mati.”

Ada perbedaan besar antara Indonesia dengan Timor Leste. Menurut Jaray jalan di sini sudah bagus, halus oleh timbunan aspal. Listrik terang sepanjang malam. Masyarakatnya pintar dengan banyak kampus. Ia mengharap Timor Leste suatu saat bisa seperti Indonesia. Ia  merasa beruntung bisa belajar di Jogja.

Jaray punya tiga nama dalam tiga bahasa; Portugis, Adat,  dan nasional Timor Leste. Saya lupa ketiganya, susah dihafal, semuanya panjang. Nama “Jaray” sebenarnya kepunyaan kakeknya. Sudah menjadi adat di sana memakai nama kakek yang sudah meninggal untuk panggilan. Karena itu ia suruh saya panggil Jaray saja. Lebih mudah dan akrab katanya.

Tidak terasa sudah pukul dua pagi. Hawa sejuk dari sungai Gajah Wong turut merambati teras. Suasana kampung Papringan semakin sepi. Kami sudahi obrolan dan masuk kamar masing-masing. Setelah malam itu kami sering berbagi air minum, rokok, hingga film. Jaray juga pinjam beberapa buku. Ia suka baca Marxisme, ideologi gerakan Fretilin. Sekali waktu ia pinjam biografi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Saya suka sekali Soekarno, ia orang hebat.”

Di Kampus Sadhar, Jaray mengambil jurusan sastra. Ia merasa sedikit kesusahan mengikuti materi karena belum mahir ngomong Indonesia seperti kita. Ucapannya masih terbata-bata. Selain itu juga merasa kurang cocok di sastra. “Saya punya rencana mau ambil jurusan Politik,” ucapnya suatu sore. Dengan belajar politik, Jaray ingin lebih berguna bagi pembangunan Timor Leste kelak.

Baca Cuk:  Lika Liku Kehidupan Anak Kos di Sudan
BERBAGI
Jamaludin A
Suka memproblematisasi hal.