Beranda Kisah Ngapain Malu Naik Sepeda Ke Kampus? Sedikit Cerita Anak Kos di Melbourne

Ngapain Malu Naik Sepeda Ke Kampus? Sedikit Cerita Anak Kos di Melbourne

1684
ngapain malu naik sepeda ke kampus | malboure, mahasiswa
ngapain malu naik sepeda ke kampus | malboure, mahasiswa

Melbourne memang terkenal dengan moda transportasinya yang terintegrasi. Sebagai Melburnian, kami dimanjakan dengan fasilitas tram, kereta listrik dan bus yang (biasanya) tepat waktu. Satu-satunya keluh kesah kami sebagai mahasiswa, anak kos dan anak rantau adalah mahalnya tarif transportasi yang dibebankan pada kami, sebagai mahasiswa asing kami tidak memperoleh konsesi (semacam potongan harga) seperti di negara-negara bagian lainnya. Bayangkan, untuk tiket bulanan saja, kami (para mahasiswa asing yang kere) harus merogoh kocek sebanyak 109 AUD atau kira-kira setara dengan satu juta rupiah. (Silahkan menarik nafas yang dalam lalu keluarkan lewat belakang, upssssss). Bisa buat makan sebulan di Indonesia. [Baca: Cara Hidup Hemat Anak Kos]

Di kampus, rata-rata mahasiswa adalah para pejalan kaki, pengguna tram/bus/kereta atau pengguna sepeda.

Meski ada beberapa sih yang cukup mampu membawa mobil, namun jumlah nya tak terlalu signifikan. Penyebabnya antara lain biaya parkir serta harga bahan bakar yang mahal. Gerakan pengurangan emisi memang sedang marak dilakukan di Melbourne, dan moda transportasi berjalan kaki, bersepeda dan penggunaan transportasi publik sangat gencar dilakukan.

SEKELAS PROFESOR DI MELBOURNE SAJA NAIK SEPEDA

Sebagai mahasiswa yang kuliahnya bertema lingkungan, hampir setiap hari saya mendengar kampanye pengurangan emisi di kelas. Tak heran, teman teman sejurusan banyak yang bersepeda. Bukan hanya itu, dosen-dosen saya (beberapa diantaranya sudah professor) juga ternyata ikut bersepeda. Yang membuat saya kagum adalah mereka tak hanya mengkampanyekan slogan pengurangan emisi di kelas, namun memberi contoh pada para mahasiswanya bahwa mereka pun turut terlibat untuk mengurangi emisi. Sumbangsih terkecil yang bisa mereka lakukan adalah tidak menggunakan mobil mereka ke kampus. Pengalaman yang sama juga saya dapatkan saat kuliah di Jepang, para professor dan dosen-dosen banyak yang berjalan kaki atau bersepeda ke kampus, padahal jelas-jelas mereka punya mobil. Beda kan sama di Indonesia?

Saya yang semula pelanggan tram abadi merasa tersindir dengan perilaku positif yang ditunjukkan oleh dosen saya. Memang benar kata orang, dakwah yang terbaik adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan).

Karena dengan berbuat, orang lain bisa melihat. Dan saya merasa malu sendiri, kok enggan bersepeda yah. Toh manfaatnya banyak: Pertama, bisa berolahraga (ga perlu bayar fitness). Kedua, Mengurangi emisi, Ketiga, menghemat biaya transportasi.

FASILITAS UNTUK PARA PESEPEDA MANTAP SEDAP

Yang membuat saya makin mantap bersepeda adalah: Melbourne ramah terhadap pengguna sepeda buktinya ada banyak jalur khusus pengendara sepeda, tempat parkir mudah. Secara psikologis, saya juga merasa bangga bisa ikut mengurangi emisi. Perlu diingat bahwa di Melbourne, pengendara sepeda harus menggunakan helm, dan kalau malam harus menyalakan lampu depan dan belakang. Menurut seorang teman sih, kalau melanggar aturan tersebut, bisa dikenakan denda AUD 100, atau sekitar 800/900 ribuan lah. [Baca: Lika Liku Anak Kos di Sudan]

Bandingkan dengan di Indonesia, semakin banyak emisi yang dikeluarkan, semakin bangga kita.

Semakin bergengsi kendaraannya, semakin bergaya pula lah yang punya. Hehehehehe (Statement iri karena ga sanggup beli mobil). Namun, saya sangat salut dengan gerakan bike to work yang sedang rame-ramenya di Jakarta. Atau kalau di Yogyakarta ada gerakan yang dicetuskan mantan Wali Kota Herry Zudianto “Segosegawe” Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe (Sepeda digunakan untuk sekolah dan bekerja). Kenapa? Karena di tengah minimnya fasilitas infrastruktur untuk pengendara sepeda, masih banyak orang yang rela menembus kemacetan dengan bersepeda dan tetap merasa enjoy bersepeda. Sungguh sebuah gerakan yang patut diacungi dua jempol. sepatutnya Anak kos dan mahasiswa yang ada di Indonesia mendukung dan mengkampanyekan gerakan ini secara nyata. Tapi pertanyaannya, bukannya anak kos hari ini kalau ke kampus lebih gemar naik motor dari pada naik sepeda?

Baca Cuk:  Surat Untuk Kita, Orang-Orang Yang Kecanduan Berorganisasi
BERBAGI
Cipu Suaib Wittoeng
Pernah Belajar di The University of Melbourne, Pria asal Rappang, Sulawesi Selatan ini sekarang tinggal di Jakarta