Beranda Cerpen Masuknya Bareng Keluarnya Berbeda-beda

Masuknya Bareng Keluarnya Berbeda-beda

1656
teman seperjuangan, teman kos, masuk bareng keluar berbeda, kamar kos, kehidupan anak kos
teman seperjuangan, teman kos, masuk bareng keluar berbeda, kamar kos, kehidupan anak kos

Tak sengaja kemarin malam aku ketemu sama teman akrab yang satu tahun terakhir jarang ketemu, kalapun ketemu, kita hanya say hello itu pun di sosial media. Namun, malam itu dia terlihat berbeda, rambut gondrong kumelnya sudah ditebang, digantikan potongan pinggir tipis sebagaimana model anak muda kekinian. Rambut klimis dan baju rapi.

“Hai Klis, 100 persen tampilanmu berubah. Aku sampai pangkling lihat kamu dari belakang”

“Bisa aja kamu bung, gimana kabarmu? Masih membaca Indonesia kan,” tanya khas dia, sedikit satir.

“hehehe… sepertinya pertanyaanmu ini harus diselesaikan sambil duduk santai, ditemani kopi hitam dan rokok Kudus,”

“Tak masalah. Ayo kita ngopi di kos ku aja, bung,”

“Siap!!”

Kos Muklis tidak terlalu kecil bahkan terbilang lebar jika dibandingkan sama kosku yang Cuma 2×3 meter. Kosnya sepertinya 3×4 meter. “Banyak perubahan” itulah kesan pertamaku saat memasuki kos dia. Muklis ini ketika dulu masih aktif ngelola organisasi bersama, ia orangnya jarang mandi, baca buku kuat dan tak punya pacar. Sebab, pacarnya ya buku-buku yang berserakan di kamar kosnya itu. Tapi kali ini mataku tak menemukan satupun buku di kamar kosnya, hanya kasur busa, lemari, meja kecil, dan jam tangan yang tergeletak di atas almari.

Bicara soal buku, aku jadi ingat sama buku Muklis yang pernah tak pinjam 2 tahun lalu dan belum tak kembalikan sampai sekarang. Madilog. Buku karya jomblo revolusioner, Tan Malaka. Aku diam saja agar dia tak ingat kalau aku masih bawa bukunya.

Baca Cuk:  Hal-hal yang Bisa dilakukan Anak Kos Saat Gagal Mudik Idul Adha

“Bung?” Seketika aku kaget tak kira dia mau nagih buku yang pernah aku pinjam itu.

“Apa Klis?”

 “Kau masih ingat foto kita bersama, saat pelantikan di organisasi dulu?” sambil kasih tunjuk foto yang dipajang di meja kecilnya.

Jelaslah itu sejarah, masak lupa. Bahkan beberapa teman kita nih terbantukan dengan organisasi kita dulu. Minimal menjadi CV buat ngelamar pekerjaan. “hahaha…” kita tertawa bersama.

Ngomong-ngomong kerjaan, teman kita sekarang pada dimana ya klis. Muklis mulai menceritakan masing-masing teman kita sesuai urutan foto yang ada didepanku. (Sebelumnya aku kasih tahu, kita itu delapan orang satu angkatan kuliah 2010). Empat sudah lulus tahun 2014. Sisanya belum juga lulus. termasuk aku sama si Muklis ini.

‘’Si Akbar ini,’’ sambil nunjuk foto paling pinggir, sekarang dia jadi wartawan Koran nasional, miliknya mantan BUMN. Gajinya sudah lumayan, empat kalinya UMR Jogja lah. “Dia pantas medapatkannya, sebab dia dulu orangnya rajin,” gumamku. [Baca: Kang Rus, Dukun Modern Ibu Kota]

Trus si Antok ini, kabarnya masih aktif “ngerumati umat”, ia seorang aktivis Masjid dekat alun-alun kota sana, ia sering ngorganisir anak-anak masjid agar lebih aktif, kreatif, inovatif dan kritis dalam memakmurkan masjid. Pantesan jika dia belum juga lulus ya. eh, tapi satu yang tak habis pikir dari Antok ini, ia takmir masjid tapi kok juga gemar “abar” ayam jago ya.

Baca Cuk:  Buta: Bukan Lantas Aku Menunggu Jemputan Seorang Pemuda

Sementara Ahmad dan Puji, kabarnya mereka sekarang duet rintis usaha warung kopi di daerah Depok sana. “Trus kuliahnya gimana,” tanyaku seketika. Ya kuliahnya cuti satu sampai dua semester lah, terus kalau warung kopinya sudah berjalan dia baru ngerampungke beberapa teori yang masih tercecer di kampus. “Padahal mereka dulu sering loh ngutuk mahasiswa yang bergerak di bidang entrepreneur.  Aku masih ingat kalimatnya Ahmad “entrepenuer iki calon-calon kapitalis baru,”  eh sekarang mereka malah buka warung kopi. Duh dek!

Kalau Siti? Tanyaku, Siti mah perempuan karir. Ia sibuk kerja sampai lupa skripsinya. Tapi kabar terbarunya, ia sudah ngejar skripsi. Sebab, Ia sudah disuruh segera pulang ke kampung, disana  sudah ada jejaka kaya yang sedang menunggunya. Kalau jadi sama jejaka itu pasti banyak lelaki yang kecewa termasuk didepanku ini, ucap Muklis menyindir aku.

Apaan sih kamu, aku pura-pura tak paham. ‘’Kalau Rosa? ‘’Dia mah sekarang sudah makmur’’. Maksudnya gimana. Ya iyalah sekarang dia kerja di televise nasional. Kerjaannya jalan-jalan sama wawancara artis-artis ibu kota, udah hampir tiap hari gitu kerjaanya. Bahkan kabar gajinya sudah dua digit loh, bukan kayak kamu. semesternya yang dua digit. Diikuti tawa ngejek..

Kalau kamu sendiri gimana Klis? Pertanyaanku membungkam tawanya.

Kalau aku ya begini menikmati hidup saja. Hidup ndak usah silau dengan yang lain. Biarlah teman-teman kita sukses. Itu sudah pilihan hidup mereka.

Siap-siap… oh ya buku-buku yang setumpuk dan berserakan dulu itu kamu kemanain Klis? Sudah aku jual. Untuk apa? Untuk beli kemeja, sepatu Nike, jam tangan rolex sama buat jalan-jalan. Buat happy-happy gitu. [Baca: Belajar Mencintai Anak Kos]

Baca Cuk:  Empat Ciri Anak Kos Sejati Ala Founding Fathers NKRI

Sambil mendengarkan jawabannya yang sok borjuis itu, mataku terpana pada dua helai rambut panjang yang menempel di atas bantalnya. ‘’Sepertinya ini rambut cewek,’’ pikirku. Ini rambut siapa Klis? Itu rambut aktivis junior semester 4, kemarin dia minta pendapat soal dana kampus yang tak kunjung-kunjung turun.  Sementara aku tak begitu percaya sama ucapan teman satu ini. Sebab, sorot matanya tak bisa dusta. Lantas mataku aku goyangkan ke kanan dan aku melihat sebuah celana dalam warna pink menggantung di balik pintu kamarnya.

BERBAGI
Taufiqo
Seorang Perantau yang bercita-cita ingin punya kos sendiri