Beranda Cerpen Idayu, Namaku

Idayu, Namaku

1186
idayu namaku, cerpen, zuhri ahmad,
idayu namaku

Pagi itu, aku kunci rapat-rapat kamar kos ku. Kututup jendela, beserta tirainya. Sengaja aku nyalakan lampu meski siang sebentar lagi datang, agar tak seorangpun menggangku keberadaanku. Aku sengaja diam, mengurung diri. Menatap lagit-langit kamar yang mulai lapuk, sudut-sudut kamar yang penuh riasan. Aku pandang pelan, sembari merebahkan tubuh.

Kulepas cardingan, dres, singlet, lagging, dan seluruhnya yang menempel pada kulitku. Perlahan kulepas hingga yang tertinggal sebatang tubuh utuh. Aku masih terdiam, menatap sekeliling kamar kos, foto, poster, buku, jam dinding, kalender, cermin, semua kutatap pelan dan detail. Ternayata semua masih tetap sama, lega tak ada yang berubah. Aku menarik nafas lebih panjang, kuhempaskan berlahan. Kuraih mataku, kuremas seluruh wajah, terlebih bibirku.. sisa ‘gincu’ masih terasa. Mengingatkanku pada kekalahan hidup, hanya semalam tadi. Runtuh seluruh tubuhku.

Entah mengapa aku sulit berkata kata, bayanganmu sungguh masih menempel lengket di otakku! Sudah kucoba menanggalkan semua yang ada dalam diriku, tapi kau selalu saja menempel di otakku.

Aku terus berfikir bagaimana cara melepaskanmu dari otakku. Haruskah aku melepaskan otakku? Tanyaku dalam hati. Keras menjerit, melengking mencari jalan untuk melupakanmu. Melupakan seluruh dari kumpulan peristiwa-peristiwa yang telah kita jalani. Tapi kenapa justru semakin dan semakin melekat, menyatu membentuk ‘sequel’ baru. Kau semakin menyatu dalam otakku.

Ya, jalan satu-satunya melupakanmu aku harus melepaskan otakku dari tubuhku, aku harus memenggal kepalaku, mengiris  keras agar kuraih otakku utuh lalu kubelah, ku ambil seluruhnya, cuci dengan air ketuban dan tujuh kali debu! Anjing.

Bukankah aku telah melepaskan otakku? Dulu sekali sejak pertama melihatmu? Bukankah otakku sudah kupasrahkan semenjak mengenalmu? Ahh, benar kata Windu, aku telah kehilangan otakku sejak bertatap mata pertama kali padanya. Bahkan berlahan , kata Windu aku telah kehilangan kewarasan. Iya, aku telah gila dibuat olehnya. Bahkan aku telah berani meninggalkan teman-tema pondokku, meninggalkan asrama, meninggalkan kitab-kitab. Meninggalkan ‘ihyak ulumuddin’ yang baru separuh ku maknai. Ahh.. aku memang sudah kehilangan otakku, sejak pertama melihatnya! Aku memilih tinggal di kos ini hanya demi gampang ditemuinya, jalan bersama, dan berdua sesukanya.

Aku memang wanita sundel, jalang! Tak pantas hidup lagi, wanita murahan. Rasanya lebih baik aku mengambil nyawa dalam ragaku dari pada otakku yang  memang sudah hilang.

Hanya nyawa yang tersisa, menjadi hantu dalam tubuhku. Benar aku ingin mati seketika, ketika semua yang kumiliki, semua yang kupertahankan telah hilang dalam diriku. Aku akan mengutuk diri sendiri selama hidupku, hingga mailakat datang mencabut nyawaku. Aku jalang!!

“Kenapa kau tak sekalian mecekik leherku mas? Kenapa kau tak sekalian  menyekap aku dengan bantal itu? Kenapa tak sekalian kau masukkan aku dalam api rokokmu?”

Kau mengisap habis tubuhku, mengulitiku perlahan bagai seekor monyet melahap pisang, mengecup bagai burung Pelatuk, kita menggelinding bagai sepasang Trenggiling. Pada semedan kasur yang sudah kurapikan, kau membuatnya teracak-acak kembali, berantakan seperti keadaanku sekarang ini mas.

Entah engkau yang mengambil atau aku yang memberikan, namun memang keberadaanmu malam tadi tak bisa aku salahkan. Aku yang memintamu datang kemari, aku yang mengiginkamu menemaniku. Sejujurya, aku hanya ingin bercerita tentang masalah keluargaku mas, cukup itu saja. Namun, memang harus ku akui kali ini air mataku tak dapat ku bendung seperti biasanya.

Air mata yang membawaku pada pelukanmu. Air mata yang membawamu dalam pelukanku.  

Andai aku tak menagis, andai aku bisa memendam cerita, andai bapak dan ibuku tak akan bercerai, andai semua tak terjadi..mas, aku semakin menangis dipelukanmu. Dan aku sadar, kau adalah benar-benar lelaki yang paling bisa mengerti, lelaki yang mampu memandangku utuh, mendengarkanku penuh, dan laki-laki yang membuatku nyaman dengan segala kekuranganku.

Tapi memang aku tak bisa menyalahkanmu mas, ini sepenuhnya salahku. Maka dari itu biar aku saja yang merasakan perihnya, biar aku saja yang menaggung dosanya, biar aku saja yang mati mas. Kau rampungkan studimu, biar aku yang mati. Kau selesaikan rencana bisnismu, biar aku yang mati. Kau cari lagi perempuan lain yang lebih baik dariku mas, biar aku yang mati. Kau lanjutkan hidupmu mas, biar aku yang mati. Sebab apa yang pantas aku banggakan pada diriku ini? Aku sudah kalah sejak dilahirkan ke dunia ini.

Kini ku tatap lagi seisi kamar kosku, lebih perlahan. Kutatap foto keluargaku, bapak, ibu, dan tiga adik perempuanku. Mendadak mereka semua tertawa, terbahak mengacung-acungkan jarinya, keras tertawa melihatku menangis. Wajah mereka keluar satu persatu dari pigura, melayang-layang dikepalaku, mengelilingi dengan tawa dan terus tertawa masuk ke gendang telinga. Aku ketakutan, menggigil, lemas, kuraih selimut untuk menghilangkanya. Aku sambar-sambarkan kelangit, namun bayangan itu tetap ada.  [Baca: Ping! Ping! Ping!]

Seketika nada dering Handphone melenyapkan suasana, hening menjadi nyaring. Mas Pras menelponku,

“halo dek? Semoga kau baik-baik saja”. Tutur mas Pras.

“Iya mas, aku baik-baik saja”. Jawabku datar.

“Bismillah dek, Bulan depan aku akan menikahimu, sesuai janjiku, kita akan pergi dari kota ini, kita memulai hidup yang baru, tak peduli dengan restu orang tuaku dek. Aku akan tetap menikahimu, mencintaimu sampai akhir hayatku. Aku lelakimu, kita akan hidup bersama selamanya sampai maut yang memisahkan kita! Itu janjiku padamu”. Papar mas Pras penuh kedalaman.

Aku hanya menangis, terisak dan terus menagis…terlanjur pisau sudah merobek nadiku.

sudah terlanjut mas | sumber: ebaaaysijobolmanis.blogspot.com
Baca Cuk:  Mungkin Anak Kos Mengira Hal-Hal Berikut Ini Adalah Hal Remeh Temeh, Tapi Sebenarnya Sangat Penting
BERBAGI
Zuhri Ahmad
Santri tinggal di Ibu kota @surban_wali