Beranda Cerpen Suatu Senja di Teras Atap Kamar Kos

Suatu Senja di Teras Atap Kamar Kos

507
uatu-sore-di-teras-atap-kamar-kos
uatu-sore-di-teras-atap-kamar-kos

Kupandangi senja sore hari yang nampak indah, dilukis  dengan penuh cinta oleh sang maha pencipta, maha segalanya. Kala itu, aku masih semester baru di sebuah kampus islam negeri Jogja. Aku memutuskan untuk ngekos di daerah yang cukup lumayan dekat dengan kampus.  Awalnya aku sekamar dengan kakak senior semester 3 yang mana dia adalah teman kakakku.

Akan tetapi saat senja begitu jahat, menampakkan kelamnya sore hari, aku memutuskan untuk pindah kamar bersama dua orang yang belum aku kenal, mereka juga sama-sama mahasiswa baru. Aku tidak pernah tau dengan perjumpaan ini, akan tetapi lambat laun perjumpaan itu membawa kita menjadi layaknya saudara bahkan keluarga yang enggan untuk berpisah. Bagaikan garis tangan yang menunjukkan takdir abstrak kehidupan ini. Kita bertiga melalui kehidupan kos, lengkap dengan suka duka. Jika mengingatnya, berkesan dihati ini.

Aku masih ingat betul, kamar kita  berbentuk L. L melambangkan sebuah sudut dimana dalam hidup kita kadang dipaksa berbelok, disaat menemukan sudut sempit dan terjepit. Iya, saat itu kita bertiga pernah merasakan masa-masa sulit saat akhir bulan, karena belum dapat kiriman. Sehingga kita harus memutar otak agar bisa terus makan dan bertahan ditanah perantauan. Makan mie bertiga dalam satu magic com pun kami lakukan.

Selain itu, kisah percintaan dari salah satu kami yang rumit, tingkah konyol kita bertiga, candaan, tangis dan tawa kadang tergambar lucu bagaikan skala richter yang mendeteksi pergeseran tanah diwilayah gunung berapi. Yap, kisah kita bertiga memang penuh romantisme, bagaikan kota roma yang tak kurang dengan kasih sayang.

Namun kisah indah kita ini memiliki masa yang sangat sempit, bagaikan masa jabatan khalifah yang harus mundur karena tergantikan yang lebih kuat. Tapi aku tidak mau seperti itu, kisah kita tak boleh tergantikan. kisah kita akan berlanjut pada jalan masing-masing, meski dua dari kita memutuskan untuk mondok dan yang satu memutuskan untuk tetap menjadi anak kos.

Dengan jalan seperti ini, kita akhirnya mengerti arti sebuah pertemuan, arti sebuah kekonyolan dan arti sebuah kebersamaan. Dengan cara seperti ini, kita akan terus berjuang mewujudkan cita-cita agar suatu saat nanti kita bertemu dengan cerita lain yang lebih indah. Agar suatu saat nanti kita bertemu bukan lagi sebagai anak kos atau anak pondok, tapi sebagai seorang perempuan yang sukses.

Yah, senja disore ini begitu indah, sampai-sampai aku membuat lamunan indah ini, bersama cahaya  jingga dan hembusan angin sore. Rasanya persis seperti indahnya saat dulu pertama kali, kau mengajarkanku cara menikmati senja. Saat kau memintaku untuk memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang sepoi. Bedanya senja kali ini, aku melihat senja dari atas jemuran lantai  tiga kos-kosan sebagaimana dulu sering kita lakukan. Sedangkan kau kawan, mungkin juga menikmati senja ini dilantai 3 pondokmu . Namun saat ini, entah mengapa aku yakin sekali, kita sama-sama melihat senja dilangit yang sama.

Senja dilangit Indonesia.

*ini adalah kisah dari anak kos untuk sahabatnya yang berpisah karena salah satunya memutuskan untuk mondok. Sementara kamu bisa menulis kisahmu sendiri sebagai anak kos ke email; redaksi@anakkos.com.

Baca Cuk:  9 Mall Modern yang Mengepung Anak Kos Jogja
BERBAGI
Vita Telespora
Perempuan Kece Kelahiran Nganjuk Jawa Timur