Beranda Artikel Tragedi Kemanusiaan Kulon Progo – Anak Kos Perlu Tahu

Tragedi Kemanusiaan Kulon Progo – Anak Kos Perlu Tahu

258
stop bandara kulon progo, nyia,

TRAGEDI KEMANUSIAAN

“Hari ini eksekusi, lahan pertanian siap panen diratakan, pepohonan di pekarangan dirubuhkan, ada yg menimpa rumah. Bendera dicopot, pertanda giliran rumah. Kemungkinan dilanjut sampai besok. Ada info ditarget 1 Juli usai.

Apa yg bisa dan akan dilakukan komunitas akademik merespons pengadaan tanah dan pengosongan lahan ketika konsinyasi tak memenuhi syarat (sehingga seharusnya ilegal) dan pengosongan lahan dgn IPL kadaluarsa per 1 April 2018 ? Ada perempuan dan anak, ada pilar pangan yg dibunuh perlahan. Tak cukup teriak lawan atau respons simbolik2 spt yg sudah2. Ada tanggungjawab kaum intelektual krn mereka berhutang jasa pangan pd para petani.”

Betapa sedihnya menerima pesan wa di atas, membaca berbagai berita (salah satunya ini, https://bit.ly/2Kk6Ssb), melihat rekaman video tanah pertanian diterjang bolduser dengan mendapat pengawalan ketat aparat negara polisi https://bit.ly/2Izg71H, video seorang ibu (bernama Bu Wagirah) yang “dikalangi” (dikepung) oleh polisi agar tidak menuju lahannya https://bit.ly/2tPEAur. Bu Wagirah meratap, menangis, menggugat bukan hanya kepada polisi-polisi wanita yang semuanya sengaja mengenakan penutup mulut dan kacamata hitam agar menutupi wajahnya sebagai manusia, namun juga kepada negara yang tidak melindungi warganya, kaum tani yang sehari-hari menghasilkan pangan untuk para polisi itu, dan semua warga dunia.

Terus terang, saya ‘belum berani’ datang ke dulur-dulur petani di sana, lebih banyak karena sedih melihat apa yang menimpa dulur-dulur di sana dan betapa gamblangnya kezaliman itu, namun juga betapa saya belum bisa apa-apa.

Baca Cuk:  6 Penyebab Penyalahgunaan Kos-kosan

MASYGUL

Saya masih masygul mencerna kalimat pertanyaan ini. Mengapa mereka, para petani, yang mendapat ancaman dirampas tanahnya, tidak dilindungi oleh pemerintah, disalahkan bahkan dijauhi oleh para akademisi dan berbagai pihak lain? Sebaliknya, ketika petani bergerak sendiri–karena tidak mendapatkan perlindungan itu dalam mempertahankan tanahnya–justru malah dikriminalisasi dan dipenjarakan? Ini adalah kenyataan yang sederhana, namun masih banyak, termasuk kaum cerdik cendekia yang ternyata tidak mampu menginsyafi pertanyaan (kenyataan) yang sederhana ini. Berbagai jenis ilmu yang mereka pelajari, yang terakreditasi ataupun yang tidak itu, mandul dalam memperjuangkan nasib rakyat yang terzalimi.

Cerdik pandai lebih banyak berkutat melahirkan “pengetahuan” mengenai bagaimana pengadaan tanah dilakukan, kelengkapan dokumen, cara bagaimana mengeluarkan uang untuk mengganti (rugi) tanah-air dan kehidupan masyarakat, dan berbagai dimensi administratif lainnya. Eman-eman alias terlalu mubazir energi dan kemampuan finansial (yang diberikan publik melalui negara) para cerdik pandai itu hanya digunakan untuk memikirkan hal permukaan begitu, dan menafikan soal keberlanjutan alam dan kehidupan manusia dan manusia itu sendiri.

Jikapun ada kemajuan berpikir dari cara-cara pengadaan tanah sebelumnya, tetap saja pikiran itu tidak keluar dari kerangka bagaimana men-sukseskan pengadaan tanah oleh pemilik proyek itu (pemerintah atau swasta). Evaluasi program dan apa yang disebut pemikiran alternatif, tetap dalam kerangka itu.

EGOISME PEMBANGUNAN DAN PERLUASAN RUANG KAPITAL

Pembangunan bandara NYIA bukan soal agar tercipta keselamatan penerbangan. Jika untuk alasan ini, mengapa bertaruh nyawa dengan masih digunakannya bandara adisucipto? Tapi pembangunan ini adalah demi perluasan kapital itu sendiri. Pembangunan ini untuk menjawab kebutuhan penumpang pesawat yang terus bertambah karena ingin travelling (sebagai traveler abidin alias atas biaya dinas, hasil tabungan untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang instragammable dan bisa berfoto menjempol di depan rumah makan) dan hasrat itu terus diulik-ulik oleh para investor wisata.

Baca Cuk:  Merayakan Imlek Ala Anak Kos Secara Bahagia

Oleh karena itulah ruang-ruang harus diperluas untuk para traveller, untuk pemilik kapital. Terminal ditambahkan di bandara adisucipto. Jika masih tidak cukup, bandara baru harus dibangun. Tak peduli untuk memperluas ruang nafsu travelling itu terjadi dengan memusnahkan ruang hidup umat.

Jika soal pembangunan, kita juga terbiasa dengan cara berpikir yang egoistik (kedaerahan). Membangun berarti adalah membangun di daerahnya. Tidak ada perspektif keindonesiaan di sini. Jika daerah tetangga sedang membangun, tidakkah itu memiliki arti pembangunan juga bagi kita? Tidak bisakah mengintegrasikan kebutuhan bandara ini dengan memperluas bandara yang ada di Surakarta yang notabene sudah bandara internasional? Untuk menuju kesana, warga Yogyakarta dan sekitarnya toh bisa diintegrasikan dengan jalur kereta api (yang juga sudah ada)? Terintegrasi sistem transportasi, terintegrasi pergerakan orang-orang antar daerah, terintegrasi pembangunan!?

Tapi, sekali lagi, bukan itu yang dipikirkan. Bukan soal keselamatan nyawa penerbangan. Bukan soal pembangunan Indonesia, bahkan. Tapi pembangunan bandara adalah soal daya tampung dan daya perluasan kapital, daya penikmatan proyek pelaksanaan pembangunan oleh elit daerah.

IGNORANCE MANUSIA DAN SEPATA TUHAN

Saya kutip saja tanpa penjelasan lebih jauh apa yang saya takutkan ini.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami hempaskan mereka mayoritas jin dan manusia, yakni mereka yang mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk berempati (memahami kondisi yang ada), mempunyai mata tetapi tidak mau melihat (kezaliman) apa yang terjadi di depan mata, mempunyai telinga tapi tidak mau mendengar (jeritan suara) orang yang terzalimi. Mereka itulah yang termasuk dari golongan binatang ternak, bahkan lebih hina, sesat dan lalai!” (Al A’raaf ayat 179)
Teman, Tuhan telah mengangkat sepata-nya, hardikan, bahkan berupa pembinatangan pada manusia.
Adakah catatan kecil kawanmu yang dho’if ini punya arti?

Baca Cuk:  Kebiasaan Jorok Anak Kos Cowok, Kamu Termasuk Yang Mana?

Godean, 29-06-2018

sumber : facebook

BERBAGI
anakkos
Redaksi menerima tulisan seputar anak kos, baik berupa tips trik maupun cerita anak kost. kirim ke email redaksianakkos@gmail.com