Beranda Kisah Saya didik Oleh “Kemiskinan” dan “Hidup Tanpa Perayaan”

Saya didik Oleh “Kemiskinan” dan “Hidup Tanpa Perayaan”

3
pendamping wisuda, pendamping hidup
pendamping wisuda, pendamping hidup

Hi anak kos, bagaimana kabarnya kalian? semoga baik baik selalu ya, kali ini ada kisah menarik nan pilu tapi penuh inspirasi datang dari seorang penjual buku, lihat kisahnya

Saya didik oleh “kemiskinan” dan “hidup tanpa perayaan”. Kemiskinan telah melatih saya untuk legowo, hidup sederhana, apa adanya, prihatin, dan tidak neko-neko. Sebelum kelas 1 SD, saya sudah berlatih puasa Ramadan. Kelas 1 SD tentu juga puasa saat Ramadan, dari subuh sampai magrib, meski ada batalnya (lupa batal berapa hari). Saat kelas 2 SD, selain menjalani puasa wajib, kadang-kadang saya juga puasa Daud. Saya semangat berpuasa karena kata Ibu pahalanya sangat besar.

Saya jarang jajan sewaktu SD–jarang dapat uang saku. Saya baru bisa sering jajan kalau di kampung sedang musim panen padi. Saya dan teman-teman sepermainan biasa “ngasag”, dapat 2 atau 3 kg biasa dijual ke warung. Dapat duit beberapa ribu, senangnya bukan main.

Saat teman-teman lain dengan mudahnya bisa jajan dan beli mainan/barang kesukaan, saya hanya bisa bersabar. Waktu kelas 4 SD, ada penjual mainan anak di hajatan tetangga. Saya melihat ada poster timnas sepak bola yang juara piala dunia 2002. Saya pengin banget punya dan memandangi poster itu dengan mata berbinar-binar. Tapi saat itu saya tidak ada duit. Minta ke orang tua pun tidak dikasih. Saya sedih dan mengubur dalam-dalam keinginan itu.

Saat SD, sekali saya rangking 2 dan sisanya selalu rangking 1. Tapi orang tua tidak pernah memberi hadiah, tidak pernah mengucapkan selamat. Saya baru menyadari ini saat dewasa. Tapi saat kecil saya tidak mempermasalahkan itu. Saat kelas 6 SD, saya sudah punya adik 6 (enam). Kadang saya malu kalau orang-orang meledek “kecil-kecil kok adiknya banyak.” Saat kecil saya baper kalau diledek seperti itu. Namun sekarang saya bangga punya banyak adik.

Desaku termasuk desa yang sangat pelosok. Tapi saat saya kelas 4 SD, beberapa teman kelas, yang anak perempuan ada yang membuat pesta perayaan ulang tahun. Yang diundang semuanya juga anak perempuan. Anak-anak cowok tidak ada yang diundang. Anak-anak cowok pun tidak ada yang merayakan ulang tahunnya dengan sebuah pesta. Itulah sejarah awal saya mengenal istilah “ulang tahun.”

Kemudian menginjak SMP, berlanjut ke SMA, saya jadi tambah tahu. Ternyata banyak orang yang terbiasa merayakan ulang tahun. Kalau di SMP/SMA saya mulai tahu: ternyata ada yang merayakan ulang tahun dengan lempar-lemparan tepung dan telor. Padahal waktu saya kecil di kampung, telor adalah lauk yang sangat spesial dan jarang bisa saya nikmati dengan mudah. Tempe yang dibalut tepung atau potongan wortel/kobis/sayur kecil-kecil yang dibalut tepung juga juga sudah termasuk lauk yang sangat mewah di keluarga kami. Tapi di kota, itu bisa buat mainan dan dibuang-buang dengan perasaan riang gembira.

Saat kelas 4 SD, pada ujian mapel keterampilan, guru menyuruh kami praktik memasak. Teman-teman kelas menyambut dengan suka cita. Cuma saya yang sedih. Kemudian dengan lantang saya mengungkapkan keberatan, “Maaf, Pak. Saya usul lain, saya pengin buat kerajinan tangan Pak. Kalau masak, saya tidak punya uang untuk beli sayur, lauk dan bumbu.” 95% suara di kelas setuju dengan ujian praktik memasak. Ada teman yang bilang, “kan nanti uangnya iuran.” Saya bersikukuh usul buat kerajinan tangan dengan bahan yang lebih murah. Akhirnya, saya dan satu teman saya membuat sangkar burung dari bambu. 37 siswa lainnya praktik memasak.

Kebetulan waktu SD, angkatan kelasku tidak melakukan study tour. Tapi teman-teman saya biasa liburan kalau hari raya tiba. Selama SD-SMP, saya hanya sekali diajak liburan oleh bapak ibu. Dan itu kebetulan karena berbarengan dengan acara keluarga besar. Teman-teman pada liburan, saya tidak bisa karena liburan juga butuh uang untuk bayar transportasi dan tiket masuk ke tempat wisata. Saat itu saya tidak iri dan tidak mempermasalahkannya. “Kemiskinan” dan “Ketidakpunyaan” telah mendidik saya untuk maklum; cukup cari kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana dan tanpa biaya mahal.

Saat SMP, sekolah mewajibkan siswa untuk study tour. Ada beberapa anak yang mengajukan keberatan. Sepuluh orang mungkin ada. Ada yang karena gampang mabok kendaraan, ada yang karena sudah pernah ke Jakarta, dan saya karena tidak punya uang. Saya memang tidak bilang ke orang tua. Tapi saya sudah melihat kalau di rumah bapak ibu sering bingung karena kerja cuma dapat duit sedikit, sementara kebutuhan keluarga lebih banyak–sampai sering berhutang.

Saya baru bisa merasakan pergi ke luar kota saat kenaikan kelas 12 MA. Saya bersama satu teman saya diutus sekolah untuk mengikuti event “Liburan Sastra di Pesantren” di Kaliopak, Piyungan, Bantul. Selepas acara 3 hari kami menginap di rumah saudara teman saya. Kemudian kami eksplor tempat-tempat wisata di Jogja selama 3 hari juga. Peristiwa inilah yang juga membuat saya jatuh cinta pada Jogja dan membatin, “kelak saya ingin kembali lagi ke sini.” Sepulang dari Jogja, selang beberapa hari kelas 12 study tour ke Jakarta dan Bandung. Saya ikut karena saat MA, segala biaya sekolah saya ditanggung oleh Bapak Angkat. Allah memang baik, Dia ngasih kesempatan ke saya setalah sekian lama saya bersabar.

Menyinggung “hidup tanpa perayaan”. Orang tua saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya. Mengucapkan pun tidak pernah. Saya pun tidak meminta (tidak mengharuskan). Keluarga kami memang berbeda dengan keluarga orang kaya yang bisa membuat perayaan. Ucapan ulang tahun itu mudah, tapi bapak ibu saya tidak melakukannya. Mungkin hal semacam itu hanya cocok untuk keluarga harmonis romantis dan tidak punya utang. Kerepotan mencukupi kebutuhan primer dan kepayahan utanglah yang sudah menyita pikirannya. Orang tua saya pun lebih sering membentak dan memarahi (karena kami bandel, pemalas, tidak bisa bekerja sesuai harapannya), jadi agak kikuk kalau tiba-tiba romantis dengan bilang “selamat ulang tahun.”

Saat SD saya rajin belajar, rajin sekolah dan lumayan rajin ngaji. Meski berprestasi, orang tua jarang banget mengapresiasi. Hampir gak pernah memuji anaknya. Saat kecil sering kudengar “Buat apa pinter sekolah kalau kerja gak pinter…”, “Percuma rangking 1 kalau males kerja.” Beliau sering marah dan jengkel pada anak-anaknya. Sering membanding-bandingkan kalau tidak seperti anak-anak orang lain yang pinter “nyambet gawe” (kerja). Saat dimarahi saya hanya bisa diam, tidak melawan.

Saat SMP, saya sekolah di kota dan tinggal di rumah saudara. Di SMP, tidak banyak yang bisa kuceritakan. Prestasi pun hanya peringkat medioker. Lulus SMP saya vakum sekolah satu tahun. Lanjut MA saya mulai rajin belajar lagi. Kelas 10 saya bisa rangking 1 dan 2. Kelas 11 dan 12 saya rangking 10 besar (tepatnya saya lupa). Saat kelas 11 dan 12 saya tidak begitu getol mengejar akademik. Mungkin fokus terpecah karena saya sibuk membaca karya-karya sastra, dan sering berlatih menulis puisi dan cerpen (intinya saya ndak pinter menyeimbangkan, ndak pinter memanajemen kegiatan). Tapi berkat tulisan-tulisan saya yang terbit di koran dan majalah dengan membawa nama sekolah ini membuat guru-guru lebih sering menceritakan saya pada adik-adik tingkat, terutama guru-guru Bahasa Indonesia. Ada satu puisi saya yang dijadikan materi soal Bahasa Indonesia (saat saya sudah lulus). Nilai UN Bahasa Indonesia saya juga tertinggi di sekolah.

Saya terbiasa hidup tanpa perayaan dan agak asing jika hadir ke sebuah perayaan. Seperti momen penting acara perpisahan kelas 12. Saya tidak hadir karena saya tidak punya dress code yang cocok. Mungkin pinjam bisa, tapi saya bingung mau pinjam ke siapa. Sempat terpikir juga, kalau saya pakai dress code orang lain rasanya “ini bukan saya yang sejati. Saya tidak mau membohongi diri sendiri.”

Saat saya kuliah…. Saya berpikir, jika kelak nanti saya wisuda “biarlah tidak usah ada perayaan. Saya tidak meminta keluarga untuk hadir, juga teman-teman. Saya asing dengan perayaan. Saya tidak akrab dengan hal-hal seremonial.”

Namun, cinta mengubah pandangan ini. Dalam artian, saya mau hadir ke acara wisuda seorang perempuan yang telah mengilhami saya menulis beberapa puisi. Saya mulai berpikir akan mempersembahkan kado/hadiah untuknya. Saya pun sudah punya baju hem terbaik untuk bisa menghormati momen spesialnya (agar saya tidak terlihat terlalu gembel saat sesi foto bersama). Tapi sayang, dia tidak mengundang saya dan sekarang dia sudah menikah orang lain. Peristiwa ini semakin mengajariku tentang “hidup tanpa perayaan.

Jogja, 29 Januari 2019

Amin Sahri, Owner Rindu Buku

BERBAGI
anakkos
Redaksi menerima tulisan seputar anak kos, baik berupa tips trik maupun cerita anak kost. kirim ke email [email protected]